Pages

Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2019

Belajar Knitting dari Youtube

Hai! Jumpa lagi setelah setengah tahun (haha!!) dengan gue. Yep, emang deh sejak laptop gue bermasalah sama baterai dan belum gue apa-apain, nasib blog ini jadi nggak jelas banget. Tapiiii.... kali ini gue mau cerita soal hobi merajut gue yang sebagian besar gue pelajari secara otodidak dari... YOUTUBE!!!! Mungkin berguna buat orang-orang yang udah penasaran pengin ngerajut tapi bingung harus belajar dari mana dan gimana cara memulainya.

Zaman sekarang, apa saja bisa dicari di internet. Belajar apa pun yang kita tertarik udah bukan lagi hal yang sulit dan bisa dilakukan secara gratis, asal kita punya koneksi internet yang lancar dan cepat. Tinggal buka google, masukkan kata kunci, dan YAP! Sederet tautan terkait hal tersebut pun sudah langsung muncul, siap kita klik. Salah satu tempat favorit gue untuk belajar adalah Youtube, karena bentuk penyampaian materinya dengan video, jadi kita bisa belajar lengkap secara visual maupun audio. Kalau kita ketinggalan langkah, tinggal rewind. Kalau kita merasa bingung dengan satu video, tinggal cari video tutorial lain. Kalau masih bingung, tinggal tanya di komentar dan nanti si pembuat video atau penonton lain yang mengerti akan membalas dan membantu kita. Salah satu yang bisa kita pelajari di sini adalah merajut dengan teknik knitting.

Knitting adalah hobi gue sejak zaman masih kuliah dulu niiih. Knitting ini beda dengan crochet ya, teman-teman. Kalau crochet menggunakan alat bernama hakpen yang ada kaitnya, maka knitting ini mengenakan dua jarum rajut dengan teknik pengerjaan memindahkan benang dari satu jarum ke jarum lainnya dan seterusnya untuk naik tingkat. Awal perkenalan gue dengan knitting dulu adalah karena gue iseng mampir ke toko rajut di mal dekat rumah. Kalau beli alat atau benang di sana, kita bisa belajar gratis dan memilih pola yang tersedia di sana. Penjaga toko akan membantu kita belajar sampai selesai satu project, biasanya dimulai dari syal dengan pola sederhana yang berguna untuk meluweskan tangan kita. Seru, tapi berubah jadi nggak seru ketika si penjaga toko yang jago knitting tiba-tiba berhenti. Dan sejak itu, ilmu gue pun stuck sebatas merajut syal sederhana....

Setelah bekerja, gue ketemu teman di kantor yang hobi knitting sekaligus punya toko online peralatan merajut. Karena kangen knitting dan lapar mata ngeliat benang-benang lucu, gue pun belanja banyak di situ. Tapi terus bingung mau ngapain. Bikin syal dengan teknik begitu-begitu aja, bosen. Lalu isenglah gue browsing Youtube dan WOWW!!!! Ternyata video tutorial knitting ini banyak banget!!

Sebelum gue membagi-bagikan referensi video Youtube yang bisa teman-teman tonton kalau teman-teman berminat belajar knitting, gue akan kasih info-info dasar untuk knitting dulu yaa... 

JARUM

Jarum knitting ini banyak modelnya, ada yang single pointed needle atau straight needle yang di satu sisi lancip tapi sisi lainnya tertutup untuk mencegah benang yang sedang dikerjakan lolos. Biasanya jenis jarum ini berguna untuk project yang cuma lurus dan nggak terlalu lebar macam syal. Ada double pointed needle, di mana dua sisi jarum lancip, biasa berguna untuk membuat rajutan yang bulat seperti topi atau kaos kaki, tapi hati-hati benangnya lolos! Lalu ada circular needle di mana di satu ujung jarumnya lancip, di ujung lainnya terdapat kabel untuk menghubungkan satu jarum dengan jarum lainnya. Menurut gue, jarum jenis circular ini paling nyaman digunakan karena bisa buat project apa aja terutama yang lurus macam syal atau selimut. Buat topi juga bisa, karena kabelnya bisa ditarik-ulur. Circular needle punya kabel yang panjangnya beragam yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Jenis-jenis jarum knitting. Sumber di sini.

Tentang bahan, ada yang besi ada pula yang bambu. Gue pribadi suka bambu karena lebih kesat dan benang nggak mudah lolos. Tapi jeleknya, jarum bambu mudah patah kalau kita terlalu menekan. Untung harganya murah :P  Oiya, kalian bisa beli di toko-toko online di tok*pedia atau sho*ee yaaa untuk jarum rajut ini. Beli per set oke, tapi mungkin kalian ga butuh seluruh ukurannya. Jadi, mending tentuin dulu benang yang akan kalian gunakan dan mau bikin apa. Untuk circular needle, tentu project bikin selimut dan syal yang punya lebar berbeda membuat kalian butuh panjang cable yang berbeda.

Sabtu, 12 Mei 2018

Jalan-jalan ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Gue lagi nganggur beberapa hari Minggu yang lalu. Sesuatu yang jarang, karena biasanya gue latihan keroncong di gereja. Tapi karena jadwal pelayanan selanjutnya jatuh di hari kerja yang gue nggak bisa cuti, jadilah gue beristirahat dulu. Gue pikir Minggu ini gue bisa leyeh-leyeh di rumah. Siapa sangka, Bokap malah nyuruh gue nemenin ke bandara buat nganter tamunya pulang ke Taiwan. Maklum, Bokap males bawa mobil dan lebih milih naek bis bandara dan gue kan lebih jago ya soal pertransportasi-umuman. Jadi yaa sudahlah, let's go ke bandara!


Yang kami tuju hari ini adalah Terminal 3, terminal paling anyarnya Bandara Soekarno-Hatta, karena pesawat tamu bapak gue berangkat dari terminal ini. Buat gue pribadi, ini adalah pengalaman kedua gue setelah pas ke Singapore Maret lalu. Terminal 3 jadi terminal favorit gue karena desainnya yang simpel, membuat terminal ini kelihatan luas dan nggak ngebingungin dengan lorong-lorong kayak terminal lainnya dan... banyak tempat jajan. Hahahaha. Ketauan banget tukang jajan!

Kami pergi naik Gocar ke Pondok Indah Mal 2 dan langsung naik bis JAConnexion punya PPD buat ke bandara Soekarno Hatta. Tarifnya Rp 35.000 per orang dan lewat tol JORR. Jarak tempuh sekitar 1 jam. Bis ini sepertinya belum sepopuler Damri yang mangkal di Terminal Lebak Bulus karena bisnya masih sepiiii banget. Alhasil, ketimbang berhenti di semua terminal, si sopir nanya dulu penumpangnya pada turun di mana. Hari itu, semua penumpang turun di Terminal 3, jadi bis langsung ke Terminal 3.

Bis JAConnexion ini berangkat sejam sekali dari PIM 2, entah kalo dari mal-mal lain. Oiya, bis ini mangkalnya di mal-mal ya, kayak Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, dll. Bisnya bersih dan ada wifi-nya. Kalau mau tau seputar bis ini, di-google aja yak. Informasinya banyak kok. Ketik kata kunci JAConnexion aja udah langsung keluar.

Jadwal bis JAConnexion. Liat jadwal paling malamnya tuh jam 8, kira-kira sampai bandara jam 9. Kalau kamu mendarat lewat dari jam itu, mending langsung cari taksi aja.
Gue dan Bokap naik yang jadwal jam 9 pagi, sampai di Terminal 3 jam 10 pagi. Hari Minggu sih yaa jadi nggak macet.

Nah sekarang soal Terminal 3, terminal favorit gue di Soetta. Gue heran, banyak yang bilang kalau bandara ini gede banget dan ngebingungin. Bahkan temen kantor gue yang lebih sering terbang daripada gue juga berpikir kayak gitu. Padahal sebenarnya nggak gitu-gitu amat deh. Gede iya, tapi ngebingungin nggak, karena dari ujung ke ujung tuh semua keliatan dan papan informasi serta kru bandara ada di mana-mana. 


Setelah turun di bagian keberangkatan internasional, gue menaruh tas untuk dicek, lalu masuk. Inilah pemandangan yang gue dapetin di dalam terminal kalo gue nengok ke sebelah kanan. Rangkaian counter check in dari berbagai maskapai. Untuk keberangkatan internasional pastinya, karena gue kan masuk di bagian internasional. Untuk domestik, masih terus jalan lurusssss....  Lambang dan nama maskapai jelas terpampang di atas counter. Tersedia juga alat untuk self check in. Jadi kalau kamu pergi nggak bawa bagasi, cuma tas yang bisa masuk kabin, kamu bisa self check in langsung di alat ini. Tapi kalau bisa web check in mending web check in aja biar nggak ribet dan bisa langsung masuk imigrasi yang ada di sebelah kiri pintu masuk.

Di sebelah kiri, ada Secure Bag alias tempat untuk membungkus koper kita. Jadi, kalau kamu takut koper kamu rusak selama penerbangan, kamu bisa ngebungkus koper kamu pake plastik di sini. Tapi bayar yaa..

Di depan mata, setelah kursi-kursi untuk menunggu dan juga beberapa display tanaman, kita akan disuguhi pemandangan berbagai macam restoran mulai dari Shaburi, Paper Lunch, Bakmi GM, sampai Starbucks. Ada juga mini market dan toko buku. Kebanyakan restoran menyajikan pemandangan ke landasan juga. Jadi sambil makan atau minum nunggu jadwal keberangkatan, kita bisa nontonin pesawat datang dan pergi.

Ini pemandangan dari Bakerzin, tempat gue makan kemarin. Seru juga ngeliatin pesawat mendarat dan lepas landas.
Bagian kedatangan tempat kita masuk adalah di lantai atas, sementara lantai di bawahnya cuma diperuntukkan untuk penumpang rute internasional yang udah check in alias punya tiket pesawat--kalo cuma nganter kayak gue nggak boleh masuk! Di bawah sebenarnya lebih keren lagi restoran dan toko-tokonya, tapi karena gue bukan penumpang, gue nggak bisa fotoin deh.


Minggu, 22 April 2018

Tips Menikmati Konser Kpop di Indonesia





Pencinta Kpop mana pun pasti memasukkan "nonton konser Kpop" dalam salah satu daftar Things To Do Before I Die-nya. Silakan ganti kata "Kpop" jadi grup bias kamu, bisa EXO, BTS, iKON, Twice, dll. sesuai selera. Gue pun begitu. Buat gue yang SM stan kelas berat, rasanya konser semua artis SM gue pengin nonton, baik yang konser tunggal maupun konser gabungan macam SM Town dan Music Bank. Dan nonton konser tuh nggak pernah cukup cuma sekali karena konsep setiap konser dari satu artis biasanya berbeda dengan yang lainnya. Jadi, kalau bisa, semua didatengin. Sayangnya, kita sebagai fans selalu terbentur satu masalah: DUIT.

Harga tiket Kpop terkenal lebih mahal dibanding konser-konser musik lain. Nggak heran, karena konser Kpop nggak sekadar menyajikan idola yang menyanyi dan menari tapi biasanya diikuti pula dengan desain panggung yang wah, tata cahaya yang poll abis, dan juga sound system yang oke. Selain itu, durasi konser Kpop juga biasanya lama, 3 jam bahkan bisa lebih, dan artis-artisnya banyak melakukan fanservice yang menjadi pengalaman tak terlupakan untuk fans yang hadir. Tapi ya itu... kepuasan itu memang harus dibayar dengan harga yang lebih mahal.

Masalah duit ini bukan hanya dialami oleh fans-fans usia sekolah dan kuliah yang belum punya penghasilan kok. Untuk gue yang udah kerja pun hal ini masih jadi masalah. Gaji sih emang dapet, tapi kan kebutuhan juga meningkat dan gaji nggak semata-mata uang nganggur yang bisa dihambur-hamburkan buat nonton konser kaan.... Namun, seperti gue bilang tadi, bener banget kalau nonton konser idola kamu tuh harus masuk daftar Things To Do Before I Die dan gue sangat menyarankan untuk setiap Kpopers untuk paling nggak sekali aja nonton idolanya secara langsung (walau selanjutnya kamu bakal ketagihan).

Berbekal pengalaman gue ke 7 konser Kpop selama 8 tahun terakhir ini (6 di Indonesia, 1 di Singapore), gue akan ngasih tips ke kalian yang gue harap bisa menyemangati kalian untuk beli tiket dan dateng ke konser idola kalian dengan nyaman dan kepuasan maksimal.

TIPS 1 : MAU NONTON KONSER YANG MANA?

Gue cuma ngomongin soal konser di Indonesia, ya, karena pasti kalo konser di luar negeri butuh lebih banyak persiapan dan pertimbangan. Selain itu, gue sih lebih suka nonton konser di Indonesia karena artis-artisnya bakal banyak bicara bahasa Indonesia atau nyanyi lagu Indonesia. Berasa lebih spesial aja gitu.

Biasanya, Indonesia adalah negara kesekian dalam urutan negara yang akan dikunjungi si artis dalam rangkaian turnya. Kalau beruntung, jadwal komplet sudah diumumkan dari awal sehingga kamu bisa atur rencana dengan matang. Kalaupun nggak, siap-siap aja dulu. Ikuti akun-akun sosial media promotor, kali-kali aja mereka ngasih bocoran bakal bawa artis tersebut ke Indonesia. (Mecima Pro // IME Production //  Dyandra Promosindo) atau website berita Kpop Indonesia (Korean Updates // Koreanindo).

Dalam setahun, artis yang datang bisa lebih dari satu. Buat yang single fandom, hal ini nggak masalah karena udah jelas yang diincar konser yang mana. Buat yang multifandom, kamu harus pikirin masak-masak budget kamu dan timing konsernya, mana yang dirasa paling pas. Jangan sampai uang kamu ludes karena kebanyakan nonton konser dan jangan sampai juga nilai kamu jeblok gara-gara nonton konser pas musim ujian. Buat yang udah kerja, perlu pikirin juga saat-saat kerjaan sedang numpuknya atau saat-saat dapet THR atau bonus. Selain itu, coba browsing fancam konser tersebut pas turnya singgah di negara lain. Lihat dulu kira-kira lebih seru konser siapa. Kalo buat gue sih ya, konser lebih seru buat ditonton langsung kalo banyak fanservice-nya karena pasti bakal beda di tiap negara dan di DVD konsernya nggak bakal ada, terutama kalo ada bagian idol nge-cover lagu orang, misalnya waktu Ryeowook Super Junior nyanyi Bunga Terakhir atau Astro nyanyi Kesempurnaan Cinta.

Nonton Super Show 6 sehari setelah acara ultah kantor. Indonesia adalah perhentian terakhir SS6 di luar Korea Selatan dan Super Junior akan istirahat sebelum SS7 mulai karena sebagian besar anggotanya wamil, jadi HARUS BANGET nonton!

Jumat, 23 Maret 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Part 2 : Hi Singapore!

Akhirnya hari perjalanan!!!



Flight gue ke Singapore adalah flight siang, pukul 11.10 WIB, dengan Air Asia. Sengaja gue pilih jam segini karena jarak dari rumah ke Soekarno-Hatta lumayan jauh dan jalanannya nggak bisa ditebak. Emang sih sekarang ada tol JORR yang nyambung ke bandara, tapi tolnya suka macettttt....

Gue dianter bokap ke Pondok Indah Mal 2, karena mau naik bis JAConnexion alias bis bandara baru dari PPD. Bis ini baru, jadi mungkin belum banyak yang tau. Taunya masih Damri doang. Bis ini sama bagusnya dengan Damri, cuma harganya lebih murah. Kalau naik Damri dari terminal Lebak Bulus tiketnya Rp 40.000, kalau JAConnexion ini Rp. 35.000. Selain di PIM, bis-bis ini juga ada di beberapa mal. Emang spesialis mangkal di mal kayaknya. Bis ini berangkat setiap 1 jam, dan gue naik yang jam 7 pagi. Kepagian? Nggak juga. Seperti gue bilang, jalan ke bandara nggak ketebak. Better early than late, kan? Selain itu, Air Asia sekarang pindah ke Terminal 3, terminal baru yang katanya gede banget. Mungkin akan makan waktu buat nyari-nyari gate dsb.

Ternyata jalanan lancar. Jam 8 gue udah sampe bandara. HAHAHAHA! Terminal 3 ternyata nggak sebesar yang gue takutin. Malah, lebih simpel ketimbang Terminal 2 yang banyak lorongnya. Setelah masuk, kita bakal berhadapan dengan sebuah ruangan besar. Counter-counter maskapai bertebaran. Yang agak tricky, counter Air Asia ada di sebelah kanan ruangan sedangkan ruangan check in, imigrasi dsb di sebelah kiri. Untungnya, karena gue udah web check in via website Air Asia sehingga boarding pass udah di tangan dan gue gak bawa bagasi (cuma bawa 1 ransel dan 1 tas selempang), gue bisa langsung melenggang masuk imigrasi tanpa antre. Hehehehe. Tapi masuknya sih ntaran ajaaa.... Gue mending sarapan dulu.

Ada banyak restoran di Terminal 3 ini, tapi pilihan jatuh ke Bakmi GM (haha!) Bakmi GM punya tempat duduk menghadap ke landasan, jadi gue bisa nontonin pesawat lalu lalang sambil makan, mostly Garuda. Selesai makan gue ke WC yang antre bangeeeddd... Tapi WCnya bersih dan ada tempat buat naro tas, jadinya buat solo traveler kayak gue nyaman banget. Mbak cleaning service-nya juga ada di sana dan sigap ngebersihin WC setiap saat.

Di imigrasi, ransel, tas selempang, badan dicek. Buat wanita, pemeriksanya juga wanita. Ransel sempet dibuka dan dicek detail, tapi amaaan... Pas cek pasport gue cuma ditanya, "Pergi sendiri aja?" yang gue jawab singkat, "Iya", trus pasport dibalikin dan gue bisa lewat. Oiya, sedikit cerita tentang cairan. Buat naik pesawat, ada batasan pembawaan cairan yaitu kita harus menggunakan botol maksimal 100 ml dengan total volume seluruh botol yang dibawa nggak lebih dari 1 liter, semuanya ditaruh di tas/kantong transparan. Gue beli travel kit miniso buat bawa sampo, sabun cair, sabun muka, dan aloe gel. Selain itu, sikat gigi dan odol gue taruh di kantong plastik 1 kiloan. Semuanya gue taro di kantong depan ransel gue supaya mudah ditemukan dan diperiksa. Selain itu, gue juga bawa botol minum kosong buat gue isi di dalam karena Terminal 3 ini nyediain keran air minum kayak di luar negeri. Setelah lolos pengecekan, di ruang tunggu, gue gembok ransel gue supaya aman. Namanya juga solo traveler, semua harus aman terutama tas. Jangan sampe ada yang masukin barang terlarang ke tas gue pas gue meleng!

Travel kit ini berguna banget, harganya juga cuma Rp 29.500, murah!!

Air Asia yang mau gue naikin akan berada di Gate 5, jadi gue jalan ke sana. Gate 5 terletak di ujung. Terminal 3 besar siiih, tapi karena berupa satu ruangan besar, gue nggak bingung. Semua ada angkanya gede dan informasinya lengkap. Di setiap gate ada WC dan WCnya bersih karena sepi. Ada beberapa keran air minum juga. Seperti yang udah gue bilang, buat gue sih ribetan Terminal 2 ketimbang Terminal 3. Banyak toko dan restoran juga di daerah situ. Daaaan.... ini gue sebenernya pengin coba, tapi gue takut ketiduran dan ketinggalan pesawat: ada area kursi malas buat kita istirahat! WOW!

Pesawat gue ternyata delay 30 menit sehingga disalip sama Air Asia tujuan Manila. Selain delay, dia pindah gate juga ke gate di wilayah yang belum dibuka untuk umum. Oleh karena itu, semua penumpang dibawa naik bis ke sisi sana baru naik ke pesawat. Namun, sekali lagi, informasi cukup jelas. Televisi petunjuk langsung update informasi, ground crew juga informatif. Ngantre dikit buat naik bis nggak apa-apalah asal selamat, yekaaan?

Singkat cerita, pesawat terbang mulus. Gue nggak milih tempat duduk dan nggak pesan makanan, jadi gue duduk di tengah. Nggak apa-apa, masih bisa liat keluar jendela di sebelah kanan gue. Dan untungnya, karena sebelah gue adalah bapak-bapak muda yang bawel, cerita melulu ke anaknya yang ada di seberang lorong, gue jadi rileks dan fokus nguping cerita si bapak, padahal aslinya gue cukup parno naik pesawat. Makasih loh Pak. Pelajaran yang gue petik dari perjalanan ini adalah, bawah orang annoying pun bisa jadi membantu pada saat yang tepat. Jadi, mengucap syukur senantiasa ya!

DAN TIBALAH GUE DI CHANGIIII!!!!!

Muka senang setelah mendarat di Changi, sebelum bertemu Om Imigrasi yang jutek

Kamis, 22 Maret 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Part 1: Perencanaan

HUAAAIII!!!!

Akhirnya gue punya bahan buat ditulis di blog yang udah berdebu ini!!
Sebenernya bahan sih banyak ya, tapi guenya aja yang males. Hahahaha.



Kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman solo trip gue ke Singapore tanggal 9-11 Maret 2018 kemarin. Solo dalam artian gue ngerencanain semua dan pulang-pergi sendiri. Masalah di sananya ternyata ketemu temen dan ikut agenda temen, yaaa anggap aja itu berkah perjalanan. Hahahaa.

Ceritanya, di tanggal 11 Maret gue ulang tahun. Seperti biasa, gue harus belajar satu hal baru di umur baru. Berkebun, nyoba belajar saham, dll merupakan contoh resolusi ulang tahun yang pernah gue lakukan. Perkara lanjut apa nggaknya, yaaa liat aja. Yang penting kan gue udah belajar sesuatu yang baru. Naaah, di tahun ini, solo trip adalah resolusi gue. Kenapa solo trip? Karena katanya dengan solo trip, kita jadi bisa lebih bertanggung jawab sama hidup kita dan kreatif menghadapi masalah yang menghadang, karena kita ga punya siapa pun di sebelah kita buat bantu. Hahahaha. Kesannya menantang banget ya? Padahal, apakah kenyataannya gitu? Nggak juga. Nanti bakal tau ceritanya deh.

Itinerary gue bukan itinerary orang yang nge-trip ke Singapore biasanya, karena ini sebenarnya kali ke-4 gue ke Singapore dan gue emang nggak menyasar wisata belanja, kuliner, atau tempat-tempat wisata yang lagi booming (kecuali Gardens by the Bay karena gue belum pernah ke sana). Gue berencana lebih santai dan berfokus ke area hijaunya Singapore. Singapore, walau negara kecil dan metropolis, juga jor-joran membangun taman lho, dan tamannya ini nggak main-main, sampai menyerupai hutan juga. Pada kunjungan gue di 2009, gue sampe yang ter-wow-wow banget sama Jurong Bird Park-nya yang super duper hijau dan... gue nggak ngerti sampai sekarang ya... burung-burung bisa bebas terbang di langit Bird Park-nya tanpa jaring atau pengaman apa pun tapi nggak kabur dari situ. Heran gue, kok bisa. Apa karena mereka puas sama makanan di bird park-nya ya, sampe betah gitu? Selain Jurong Bird Park, masih banyak tempat hijau lain seperti Southern Ridges dan Singapore Botanic Garden yang guedeee buanget dan terkenal sama National Orchid Garden-nya yang punya nama-nama anggrek dari tokoh-tokoh politik dunia. Itinerary awal gue yang gue rancang sendiri sebenarnya udah super santai dan yang pasti irit. Namun pada kenyataannya, banyak rencana gue meleset baik karena waktu maupun kekuatan kaki (lalala) tapi malah jadi lebih baik dari rencana gue karena gue dibantu dua temen gue yang permanent resident Singapore yang lebih ngerti Singapore--see? solo trip gue sangat tidak mandiri kan?--jadi.... gue share itinerary gue yang jadi kenyataan aja yaa...

INI ITINERARY GUE (YANG JADI KENYATAAN)

Jumat, 9 Maret 2018
Landing kira-kira jam 2 siang di T4 Changi
Makan siang di Changi Staff Canteen T2 yang katanya murah dan enak
Ke Bugis, Parkview Square alias gedung Batman, tempat kerja teman yang emang tourist spot dengan Atlas Bar-nya yang bergaya The Great Gatsby
Jalan-jalan ke daerah Raffles Place buat ngeliat keramaian di sekitar situ dan berakhir di Marina Bay Sands untuk ngeliat Spectra

Sabtu, 10 Maret 2018
Jalan pagi menyusuri Mount Faber-Henderson Wave-Southern Ridges dan makan pagi di Ikea Alexandra Rd.
Ke Gardens by the Bay terutama ke Flower Dome dan Cloud Forest
Ke Sri Mariamman Temple dan Buddha Tooth Relic Temple di kawasan Chinatown
Makan malam di Plaza Singapura Dhoby Ghaut bareng temen

Minggu, 11 Maret 2018
Beli oleh-oleh di Chinatown
Makan siang di Singapore Botanic Garden dan ke National Orchid Garden-nya
Masuk T4 Changi lebih cepat buat jalan-jalan di bagian Departure dan nonton drama peranakan trus pulang deh.
Pengin liat Supertree Grove di Gardens by the Bay serta kawan-kawannya. Sumber: http://www.gardensbythebay.com.sg 
The Halia, restoran yang populer di Singapore Botanic Garden. Sumber: https://www.sbg.org.sg

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...