Pages

Senin, 09 Juli 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 4 - Random Stories


Akhirnya kita berjumpa di pos terakhir gue tentang Seoul.

Udah agak basi sebenernya karena udah sebulan lewat dari trip gue ke sana... tapi masih berkesan di hati siiih.... Hahaha. Kali ini gue akan membagikan cerita jalan-jalan gue yang nggak pakai Discover Seoul Pass beserta hal-hal random yang gue temui di Seoul. Dimulai dari....

1. SANNAKJI

Sannakji adalah makanan khas Korea Selatan berupa.... gurita hidup yang dimakan selagi masih kejet-kejet. Jijik? Embueeerrr.... Merasa berdosa pas makan? Embuerrrr..... Tapi gue nyobain dan suka. Hahahaha.... Lha kok?

Jadi gini, sebenernya, gue nggak pernah menargetkan untuk makan sannakji di Korea Selatan sih. Malah, kepikiran aja nggak. Cuma, waktu gue sama Anggi jalan-jalan ke Gwangjang Market, kami ngeliat satu kedai yang jual makanan dari hewan-hewan laut mentah. Entah apa namanya di Korea Selatan, yang pasti kalo di Jepang ya sashimi gitu deh yaaa. Naaah salah satunya adalah sannakji ini. Sebenernya gue nggak bakalan ngeh kalau kedai yang gue dan Anggi lewatin jual gurita hidup kalo nggak karena ada beberapa orang lagi makan itu waktu kami lewat. Walau agak horor ngeliat makanan di piring masih menggeliat-geliat, tapi kok penasaran juga ngeliat orang-orang yang makan kayak menikmati banget.... Makan... nggak... makan... nggak...



Setelah gue perhatikan lebih lanjut, ternyata sannakji yang dijual si nenek di kedai bukanlah gurita utuh melainkan cuma lengannya. Jadi, gurita yang ada di akuarium di kedai itu bakal dimutilasi gitu sama dia secukupnya... (oke ini malah kedengeran lebih kejam, tapi gurita kan emang punya kemampuan menumbuhkan lagi lengannya yang putus--walau entah sakit apa nggak pas putus) lalu lengannya itu dipotong-potong lagi kecil-kecil sebelum akhirnya disiram pakai minyak wijen dan wijennya, lalu disajikan bersama saus cabai dan kecap asin. Gue pikir, wah kayaknya aman dimakan niih... dan penasaran juga sih, udah sampe Korea Selatan masa makanannya cuma mentok di yang di Jakarta juga ada macam kimbap, bibimbap, galbi, samgyetang? Jadi gue pun memutuskan untuk memesan satu porsi. Si Anggi tadinya nggak mau, tapi karena penasaran, akhirnya dia mau nyoba juga. Kami pesan satu porsi aja karena harganya lumayan mahal, 15.000 won seporsi. Tapi karena si nenek baik bener, kami malah dikasih dua gelas air putih, dua pasang sumpit, dan dua yakult. Plus satu rumput laut kemasan. Jadi intinya, makan di situ boleh seporsi buat lebih dari satu orang.


Lalu tibalah saat yang menegangkan, di mana akhirnya potongan lengan gurita yang masih bergerak-gerak itu disajikan di depan mata!!!! Satu... dua... tiga... HAP! masuk mulut. Ternyata enak rasanya. Hahahah. Lebih tepatnya, nggak ada rasanya sih, cuma asin-asin dikit. Tapi karena pakai saus cabai dan kecap asin, jadinya enak. Lengan guritanya lebih lembut daripada yang di sashimi sehingga mudah dikunyah dan gerakan-gerakannya nggak begitu terasa di dalam mulut. Mungkin karena udah dipotong pendek-pendek. Nggak perlu waktu lama buat menghabiskan seporsi sannakji ini dan nggak perlu pake maksa buat makannya.

Kasian guritanya, lengannya dipotongin terus buat dimakan...

Selain gue dan Anggi, ada juga orang Indonesia yang makan di sana, sepasang suami-istri atau pacaran mungkin--entahlah. Walau awalnya kelihatan jijik, setelah makan, mereka juga bilang sannakji itu enak kok. Jadi layak coba dong yaaa....

Tapi satu sih... setelah gue sampai di Jakarta trus gue mikir-mikir lagi, kok ya rasanya gue nekat juga. Masalahnya, tentakel guritanya dipotong langsung dari gurita yang ada di akuarium. Walau udah dicuci sebelum disajikan, tetap aja akuarium tempat si gurita tinggal itu kan belum tentu bersih dari kuman atau apalah mikroorganisme yang ada di air itu. Jadi sebenarnya, walau peluang keselek tentakel sudah minimum karena tentakel udah dipotong kecil-kecil, peluang keracunan makanan yaaa tetap ada. Untung aja waktu itu gue baik-baik aja. Mungkin itu fungsi Yakult-nya? Entahlah. Namun yang pasti, kalau kalian mau nyoba makan sannakji, pertimbangkan juga kemungkinan ini yaa.... Kalau berani ambil risiko, sebaiknya pastikan kalian beli asuransi perjalanan yang menanggung biaya rumah sakit secara maksimal!


Minggu, 17 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 3 - Comfortable Stay

Jumpa lagi di pos ke-3, di mana gue akan ngomongin soal tempat gue dan Anggi nginep selama di Seoul (dan numpang lewat di Incheon).



Gue tipe orang yang lebih senang tinggal di hostel ketimbang hotel. Alasan utama tentu soal duit karena hostel pasti lebih murah daripada hotel, terutama kalo gue solo traveling. Ketimbang bayar satu kamar hotel yang sebenarnya berkapasitas untuk 2 orang, mendingan bayar satu kasur di dorm. Nggak apa-apa sharing kamar rame-rame, toh kita bakal lebih banyak ngabisin waktu di luar ketimbang di hostel. Selain masalah pengiritan, gue juga ngerasa suasana di hostel lebih nyaman dan kekeluargaan ketimbang hotel. Kita bisa ngobrol sama staf resepsionisnya yang biasanya ramah, juga sama tamu-tamu lain. Berbagi tips dan rekomendasi perjalanan sembari makan pagi di common room. Buat gue itu sih juara! Tapi, karena perjalanan kali ini gue lakukan berdua sama Anggi, dan ternyata di Seoul banyak yang nawarin private room dengan harga murah khas hostel, gue dan Anggi lebih milih private room ketimbang dorm. Bisa dibilang hal ini menyenangkan banget, karena di samping dapat kamar privat ala hotel yang pastinya ngasih gue dan Anggi ruang buat bebas bongkar-bongkar koper, benefit dari hostel yang biasanya gue dapet kayak bisa ngobrol-ngobrol dan harga ngirit pun gue dapetin juga.

Selama 5 malam kami di Seoul dan Incheon, kami tinggal di 3 hostel. Pertama Hostel Tommy di daerah Jongno (selama 2 malam), kedua K Grand Hostel Ewha di daerah Ewha Women's University-Sinchon (selama 2 malam), dan terakhir K-Guesthouse Incheon Airport Town 1 di daerah Unseo, Incheon (selama 1 malam). Kenapa pindah-pindah? Karena menyesuaikan dengan tempat jelajah kami. Selama tanggal 25-27 Mei, kami berencana ke tempat-tempat yang bisa pakai Discover Seoul Pass, yang kebanyakan di daerah Jongno atau sekitarnya. Tanggal 27-29 Mei, kami berencana ke daerah perbelanjaan dan fashion street universitas. Daerah Ewha Women's University terkenal dengan produk fashion dan kecantikan karena banyak mahasiswi di daerah ini. Selain itu, daerah perbelanjaan terkenal lainnya, Hongdae, juga dekat situ. Di hari terakhir, yaitu 29 dan 30 Mei, flight kami pagi, yaitu jam 9 pagi. Oleh karena itu, kami harus tiba di Incheon lebih pagi. Akan lebih aman kalau sudah menginap di daerah sana karena Incheon cukup jauh dari Seoul. Maka kami pindah ke Unseo, Incheon.

Oke, sekarang mari mulai cerita soal hostel, dimulai dari:


Alamat: 66 Donhwamun-ro, Jongno-Gu.
Cara ke sana kalau naik kereta: Turun di stasiun Jongno-3(sam)-ga lalu keluar di Exit 7 tinggal jalan kaki lurus sampai ketemu gedung di sebelah kanan yang ada papan Hostel Tommy-nya. Kalau kamu bawa koper, enaknya naik lift di Exit 8, nyeberang jalan kecil dulu baru jalan kaki lurus.
Seperti udah gue bilang di pos sebelumnya, daerah Hostel Tommy ini asyik banget buat kalian yang mau ngunjungin istana-istana. Donhwamun adalah nama gerbang istana Changdeokgung, yang berarti di ujung jalan, kalian langsung sampai ke Changdeokgung (yang nempel sama Changgyeonggung). Selama perjalanan dari stasiun kereta ke hostel, kalau kalian menoleh ke kanan, akan kelihatan tembok batu. Naah... Itu adalah tembok Jongmyo Shrine. Kalian tinggal jalan menyusuri tembok ke arah yang berlawanan dari arah hostel untuk menemukan gerbang Jongmyo Shrine. Di depan Jongmyo Shrine, ada taman cantik buat duduk-duduk santai dan foto-foto. Setelah taman, ada jalan raya di mana kalau kalian naik bis bisa sampai ke Gwangjang Market dalam hitungan menit doang. Selain istana-istana, daerah ini juga ramai kalau weekend. Banyak anak muda makan di warung-warung yang digelar di pinggir jalan. Gue dan Anggi pengin nyoba makan di sana juga, tapi pas liat-liat, kok harganya mahal semua. Gak jadi deh. Hehe.

Trotoar dari stasiun kereta ke Hostel Tommy. Hostel Tommy masih di depan. Jalanannya cukup nyaman untuk narik-narik koper. Itu ada gang ke kanan, kalo belok udah keliatan Jongmyo Shrine.

Suasana hostelnya sendiri gimana? Pertama, nggak tersedia eskalator atau lift di hostel ini tapi nggak naik tangga banyak-banyak buat sampai ke resepsionisnya di lantai 2. Nggak begitu masalah kalau kalian dapat kamar di lantai 2, tapi kalo kalian dapat kamar di lantai 3... lumayan juga sih gotong-gotongnya... Gue bilang sih enakan bawa koper ukuran kabin aja ketimbang yang gede-gede karena bakal susah gotong-gotongnya. Oiya, buat yang bawa koper gede buanget dan kira-kira nggak muat ditaruh di kamar, ada tempat buat nitip koper juga, tapi buat gue pribadi bakal lebih susah buat bongkar-bongkar isinya. 

Waktu gue dateng ke sana, pemilik hostel, Mr. Tommy, yang menyambut kami dan beliau ramah luar biasa. Entah kenapa, beliau juga meng-upgrade kamar kami dari double room menjadi family room tanpa tambahan biaya. Hehe rezeki first timer kali ya? Pembayaran dilakukan tunai ketika check in dan gue milih bayar cash. Nggak ada uang deposit. Dan seperti biasa, pasport bakal di-scan untuk keamanan.

Tempat tidur bunk bed dan double.

Kamar kami cukup luas karena family room, terdiri dari 1 kasur ukuran double dan sepasang bunk bed. Ada meja, hair dryer, gantungan baju, 4 handuk kecil untuk mandi. Di kamar mandi udah disediakan sabun dan shampo. Colokan listrik ada, dan sama kayak di Indonesia, buat 2 kaki. Oh, ada kulkas juga di kamar!

Kamar mandinya. Bersih walau kecil.

Untuk common room-nya, persis seperti foto di booking.com, malah lebih luas. Nyaman banget! Kita bisa bebas menggunakan komputer dan internet untuk browsing tempat jalan-jalan, dan hostel juga menyediakan booklet untuk wisatawan dan kliping tempat makan dan daerah wisata di sekitar situ. Sarapan terdiri dari roti, sereal, dan telur yang harus dimasak sendiri. Untuk minum ada susu dan aneka jus sementara air mineral tersedia 24 jam. Sehabis makan, kita harus cuci piring dan gelas kita sendiri ya!

resepsionis di kiri, lalu dapur dan meja makan. Di sebelah kanan nggak masuk di gambar adalah ruang santai. Foto dari booking.com karena gue lupa foto. Itu di meja merah ada buku-buku. Naah, itu kliping panduan tempat makan dan tempat wisatanya. Di belakang meja merah ini ada komputer.

Wifi di tempat ini kencang dan stabil banget. Nggak heran ya, Korea Selatan gitu lhooo!

Kalau kita mau pulang malam, pintu sudah dikunci, tapi kita bakal dikasih password-nya. Jadi, nggak ada larangan pulang malam atau pagi ya. Tapi jangan berisik selama berjalan di koridor!

Gue suka banget sama hostel ini. Nggak heran, di booking.com komentar tentang hostel ini memuji semua. Abis, emang gak ada yang bisa di-complain sih!


Sabtu, 09 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 2 - Fangirling Time!!!


Jumpa di pos ke-2!!!

Btw kalo ada yang bingung itu foto patung apaan di atas, itu adalah patung Gangnam Style, sodara-sodara! Letaknya di depan Coex Mall, Gangnam. Kalau mau ke sini, bisa naik kereta turun di Bongeunsa Station keluar di Exit 7 atau Samsung Station keluar di Exit 6. Atau kayak gue dan Anggi, naik bis 143 dari depan Jongmyo Shrine--walau nggak disarankan karena lamaaa banget sampenya. Ya kecuali kamu pengin liat-liat pemandangan ya nggak apa-apa juga siiiih... Soalnya kereta kan banyakan di terowongan sedangkan bis di jalanan dan sempet nyeberang sungai Han juga, jadi pemandangannya cukup menarik.

Yang mau gue ceritain kali ini adalah seputar tempat-tempat yang bisa kamu didatengin dan barang-barang yang bisa kamu beli kalau kamu pencinta Kpop. Selepas Discover Seoul Pass, gue dan Anggi emang banyak menghabiskan waktu ke tempat-tempat yang berbau Kpop dan karena kami berdua SM stan alias ngefans sama artis-artis SM Entertainment (gue Super Junior dan NCT, Anggi TVXQ OT5 dan SHINee), daerah Gangnam dan Cheongdam jadi fokus kami banget.

Ini pintu masuknya. Begitu masuk, kita akan disambut dengan video artis-artis SM. Naik eskalator, foto artis-artis SM pun bertebaran. Siap-siap jantung, yaa...

Tempat pertama yang kami kunjungi udah gue ceritain sedikit di pos sebelumnya yaitu SM Town Coex Artium (sekarang namanya kalo menurut website resmi SM Entertainment adalah SM Town Theme Park in the City), di mana di dalamnya terdapat SM Museum dan SM Theater. Keduanya bisa dimasuki secara free dengan Discover Seoul Pass. Cara ke sananya gimana? Naaah... Gedung SM Town Coex Artium ini terletak 2 gedung di sebelah Coex Mall. Cara ke Coex Mall seperti yang udah gue kasih tau di paragraf pertama, tapi kalo mau langsung nongol di sebelah SM Town Coex Artium, kamu mending naik kereta turun di Samsung Station ketimbang Bongeunsa Station.

HEECHUL!!!! Baru masuk langsung pengin nemplok ke tembok...

Polaroid di mana-mana!!! Kalau kalian punya waktu seharian di sini, bisa foto-fotoin sepuasnya!!


Senin, 04 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 1 - Atur Itinerary dengan Discover Seoul Pass


Ketemu lagi di postingan soal jalan-jalan!!! Kali ini gue ke Seoul bareng sepupu gue, Anggi, selama 6 hari 5 malam. Sebenernya berangkatnya tanggal 24 Mei 2018 dari Jakarta dan pulang 30 Mei 2018 pagi dari Incheon Airport. Cuma karena landing-nya 25 Mei, jadi dihitung 6 hari aja yes!

Untuk liburan kali ini, kami nggak menggunakan jasa travel tapi modal nekat jalan-jalan sendiri. Beruntung kami menemukan informasi soal Discover Seoul Pass, yaitu kartu yang dikeluarkan Seoul Tourism Organization dan Seoul Metropolitan Government untuk membantu wisatawan asing menikmati kota Seoul. Ada 34 tempat wisata yang dapat wisatawan masuki secara gratis menggunakan DSP ini dan 30 tempat wisata lain yang memberikan diskon tiket masuk menggunakan kartu ini. Selain itu, kartu ini juga memberikan 1 kali gratis AREX alias kereta bandara express dari Incheon Airport ke Seoul Station atau sebaliknya, dan juga berfungsi sebagai T-money card yaitu kartu pembayaran untuk naik kereta, bis, taksi selama di Seoul. Untuk fungsi terakhir, kartu harus diisi dulu di stasiun kereta terdekat. Kartu DSP ini terdiri dari 3 waktu penggunaan berbeda, yaitu: 24 jam seharga 39.900 Won, 48 jam seharga 55.000 Won, dan (yang terbaru) 72 jam seharga 70.000 Won. Waktu ini bukan dihitung per hari sejak kartu kita dapatkan tapi per jam sejak kartu kita gunakan untuk pembelian tiket wisata pertama. Nanti akan gue jelasin lebih lanjut.

Waktu gue dan Anggi beli kartu ini, belum ada yang 72 jam, jadi kami beli yang 48 jam di Klook, supaya dapet diskon. Di Klook, tersedia peta tempat-tempat wisata yang ter-cover DSP, sangat membantu buat nyusun itinerary untuk melihat tempat mana aja yang letaknya deketan. Kalau lihat peta, kebanyakan tempat wisata klasik berlokasi di daerah Jongno-Gu sedangkan beberapa agak jauh di Apgujeong-Gangnam. Oleh karena itu, gue dan Anggi pun memilih tempat menginap untuk 2 malam pertama (hari penggunaan DSP) di daerah Jongno-Gu. Sisanya, kami pindah ke daerah universitas Ewha, tapi akan gue ceritain di pos berikutnya karena pos ini fokus bercerita tentang penggunaan Discover Seoul Pass. 

Ketika membeli DSP di Klook, pembeli akan diminta memilih tempat pengambilan kartu. Karena kami bakal mendarat di Incheon melalui Terminal 1 (kami naik Singapore Airlines yang mendarat di Terminal 1), maka kami memilih tempat pengambilan di Terminal 1. Hari pengambilan harus diisi dengan tepat pada saat pembelian kartu. Oiyaa... ngomong-ngomong, jika kalian mengalami kebingungan terkait DSP, kalian bisa tanya-tanya ke Customer Service di website Discover Seoul Pass lho. Klik aja tanda speech bubble di kanan bawah, Customer Service bakal langsung membalas kita dan menerangkan dengan rinci semuanya. Gue sempet nanya beberapa kali terkait tiket AREX dan SM Town Museum yang baruuu aja masuk ke daftar atraksi gratis di DSP tepat sebelum gue berangkat dan selalu mendapat penjelasan yang memuaskan.

Setelah beli DSP, tentu kami merancang tujuan kami dong. Jangan sampai 55.000 Won yang udah dikeluarkan nggak terpakai maksimal! Sayangnya, contekan rincian itinerary DSP yang efektif dan efisien susah ditemui walau gue udah utak-atik keyword Mbah Google. Jadi deh, gue dan Anggi ngerancang sendiri. Rancangan awal kami adalah seperti ini:

25 Mei 2018
Jongmyo Shrine : 1.000 Won
Changdeokgung : 3.000 Won
Changgyeonggung : 1.000 Won
Gyeongbokgung : 3.000 Won

26 Mei 2018
Teddy Bear Museum : 10.000 Won
N Seoul Tower Observatory Deck : 10.000 Won
Grevin Museum :18.000 Won
Coex Aquarium : 28.000 Won
SM Town Museum : 18.000 Won
SM Town Theater : 15.000 Won

27 Mei 2018
MBC World : 18.000 Won

Kalau semua berjalan sesuai rencana, total pengeluaran tiket sudah 125.000 Won. Berarti kami bisa hemat 70.000 Won dengan DSP. WOW!! Semangat banget kan jadinya???? Tapi apa semua rencana bisa terlaksana? Ternyata tidak. Mwahahahah.... Mari dibaca ceritanya satu per satu.


Sabtu, 12 Mei 2018

Jalan-jalan ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Gue lagi nganggur beberapa hari Minggu yang lalu. Sesuatu yang jarang, karena biasanya gue latihan keroncong di gereja. Tapi karena jadwal pelayanan selanjutnya jatuh di hari kerja yang gue nggak bisa cuti, jadilah gue beristirahat dulu. Gue pikir Minggu ini gue bisa leyeh-leyeh di rumah. Siapa sangka, Bokap malah nyuruh gue nemenin ke bandara buat nganter tamunya pulang ke Taiwan. Maklum, Bokap males bawa mobil dan lebih milih naek bis bandara dan gue kan lebih jago ya soal pertransportasi-umuman. Jadi yaa sudahlah, let's go ke bandara!


Yang kami tuju hari ini adalah Terminal 3, terminal paling anyarnya Bandara Soekarno-Hatta, karena pesawat tamu bapak gue berangkat dari terminal ini. Buat gue pribadi, ini adalah pengalaman kedua gue setelah pas ke Singapore Maret lalu. Terminal 3 jadi terminal favorit gue karena desainnya yang simpel, membuat terminal ini kelihatan luas dan nggak ngebingungin dengan lorong-lorong kayak terminal lainnya dan... banyak tempat jajan. Hahahaha. Ketauan banget tukang jajan!

Kami pergi naik Gocar ke Pondok Indah Mal 2 dan langsung naik bis JAConnexion punya PPD buat ke bandara Soekarno Hatta. Tarifnya Rp 35.000 per orang dan lewat tol JORR. Jarak tempuh sekitar 1 jam. Bis ini sepertinya belum sepopuler Damri yang mangkal di Terminal Lebak Bulus karena bisnya masih sepiiii banget. Alhasil, ketimbang berhenti di semua terminal, si sopir nanya dulu penumpangnya pada turun di mana. Hari itu, semua penumpang turun di Terminal 3, jadi bis langsung ke Terminal 3.

Bis JAConnexion ini berangkat sejam sekali dari PIM 2, entah kalo dari mal-mal lain. Oiya, bis ini mangkalnya di mal-mal ya, kayak Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, dll. Bisnya bersih dan ada wifi-nya. Kalau mau tau seputar bis ini, di-google aja yak. Informasinya banyak kok. Ketik kata kunci JAConnexion aja udah langsung keluar.

Jadwal bis JAConnexion. Liat jadwal paling malamnya tuh jam 8, kira-kira sampai bandara jam 9. Kalau kamu mendarat lewat dari jam itu, mending langsung cari taksi aja.
Gue dan Bokap naik yang jadwal jam 9 pagi, sampai di Terminal 3 jam 10 pagi. Hari Minggu sih yaa jadi nggak macet.

Nah sekarang soal Terminal 3, terminal favorit gue di Soetta. Gue heran, banyak yang bilang kalau bandara ini gede banget dan ngebingungin. Bahkan temen kantor gue yang lebih sering terbang daripada gue juga berpikir kayak gitu. Padahal sebenarnya nggak gitu-gitu amat deh. Gede iya, tapi ngebingungin nggak, karena dari ujung ke ujung tuh semua keliatan dan papan informasi serta kru bandara ada di mana-mana. 


Setelah turun di bagian keberangkatan internasional, gue menaruh tas untuk dicek, lalu masuk. Inilah pemandangan yang gue dapetin di dalam terminal kalo gue nengok ke sebelah kanan. Rangkaian counter check in dari berbagai maskapai. Untuk keberangkatan internasional pastinya, karena gue kan masuk di bagian internasional. Untuk domestik, masih terus jalan lurusssss....  Lambang dan nama maskapai jelas terpampang di atas counter. Tersedia juga alat untuk self check in. Jadi kalau kamu pergi nggak bawa bagasi, cuma tas yang bisa masuk kabin, kamu bisa self check in langsung di alat ini. Tapi kalau bisa web check in mending web check in aja biar nggak ribet dan bisa langsung masuk imigrasi yang ada di sebelah kiri pintu masuk.

Di sebelah kiri, ada Secure Bag alias tempat untuk membungkus koper kita. Jadi, kalau kamu takut koper kamu rusak selama penerbangan, kamu bisa ngebungkus koper kamu pake plastik di sini. Tapi bayar yaa..

Di depan mata, setelah kursi-kursi untuk menunggu dan juga beberapa display tanaman, kita akan disuguhi pemandangan berbagai macam restoran mulai dari Shaburi, Paper Lunch, Bakmi GM, sampai Starbucks. Ada juga mini market dan toko buku. Kebanyakan restoran menyajikan pemandangan ke landasan juga. Jadi sambil makan atau minum nunggu jadwal keberangkatan, kita bisa nontonin pesawat datang dan pergi.

Ini pemandangan dari Bakerzin, tempat gue makan kemarin. Seru juga ngeliatin pesawat mendarat dan lepas landas.
Bagian kedatangan tempat kita masuk adalah di lantai atas, sementara lantai di bawahnya cuma diperuntukkan untuk penumpang rute internasional yang udah check in alias punya tiket pesawat--kalo cuma nganter kayak gue nggak boleh masuk! Di bawah sebenarnya lebih keren lagi restoran dan toko-tokonya, tapi karena gue bukan penumpang, gue nggak bisa fotoin deh.


Minggu, 22 April 2018

Tips Menikmati Konser Kpop di Indonesia





Pencinta Kpop mana pun pasti memasukkan "nonton konser Kpop" dalam salah satu daftar Things To Do Before I Die-nya. Silakan ganti kata "Kpop" jadi grup bias kamu, bisa EXO, BTS, iKON, Twice, dll. sesuai selera. Gue pun begitu. Buat gue yang SM stan kelas berat, rasanya konser semua artis SM gue pengin nonton, baik yang konser tunggal maupun konser gabungan macam SM Town dan Music Bank. Dan nonton konser tuh nggak pernah cukup cuma sekali karena konsep setiap konser dari satu artis biasanya berbeda dengan yang lainnya. Jadi, kalau bisa, semua didatengin. Sayangnya, kita sebagai fans selalu terbentur satu masalah: DUIT.

Harga tiket Kpop terkenal lebih mahal dibanding konser-konser musik lain. Nggak heran, karena konser Kpop nggak sekadar menyajikan idola yang menyanyi dan menari tapi biasanya diikuti pula dengan desain panggung yang wah, tata cahaya yang poll abis, dan juga sound system yang oke. Selain itu, durasi konser Kpop juga biasanya lama, 3 jam bahkan bisa lebih, dan artis-artisnya banyak melakukan fanservice yang menjadi pengalaman tak terlupakan untuk fans yang hadir. Tapi ya itu... kepuasan itu memang harus dibayar dengan harga yang lebih mahal.

Masalah duit ini bukan hanya dialami oleh fans-fans usia sekolah dan kuliah yang belum punya penghasilan kok. Untuk gue yang udah kerja pun hal ini masih jadi masalah. Gaji sih emang dapet, tapi kan kebutuhan juga meningkat dan gaji nggak semata-mata uang nganggur yang bisa dihambur-hamburkan buat nonton konser kaan.... Namun, seperti gue bilang tadi, bener banget kalau nonton konser idola kamu tuh harus masuk daftar Things To Do Before I Die dan gue sangat menyarankan untuk setiap Kpopers untuk paling nggak sekali aja nonton idolanya secara langsung (walau selanjutnya kamu bakal ketagihan).

Berbekal pengalaman gue ke 7 konser Kpop selama 8 tahun terakhir ini (6 di Indonesia, 1 di Singapore), gue akan ngasih tips ke kalian yang gue harap bisa menyemangati kalian untuk beli tiket dan dateng ke konser idola kalian dengan nyaman dan kepuasan maksimal.

TIPS 1 : MAU NONTON KONSER YANG MANA?

Gue cuma ngomongin soal konser di Indonesia, ya, karena pasti kalo konser di luar negeri butuh lebih banyak persiapan dan pertimbangan. Selain itu, gue sih lebih suka nonton konser di Indonesia karena artis-artisnya bakal banyak bicara bahasa Indonesia atau nyanyi lagu Indonesia. Berasa lebih spesial aja gitu.

Biasanya, Indonesia adalah negara kesekian dalam urutan negara yang akan dikunjungi si artis dalam rangkaian turnya. Kalau beruntung, jadwal komplet sudah diumumkan dari awal sehingga kamu bisa atur rencana dengan matang. Kalaupun nggak, siap-siap aja dulu. Ikuti akun-akun sosial media promotor, kali-kali aja mereka ngasih bocoran bakal bawa artis tersebut ke Indonesia. (Mecima Pro // IME Production //  Dyandra Promosindo) atau website berita Kpop Indonesia (Korean Updates // Koreanindo).

Dalam setahun, artis yang datang bisa lebih dari satu. Buat yang single fandom, hal ini nggak masalah karena udah jelas yang diincar konser yang mana. Buat yang multifandom, kamu harus pikirin masak-masak budget kamu dan timing konsernya, mana yang dirasa paling pas. Jangan sampai uang kamu ludes karena kebanyakan nonton konser dan jangan sampai juga nilai kamu jeblok gara-gara nonton konser pas musim ujian. Buat yang udah kerja, perlu pikirin juga saat-saat kerjaan sedang numpuknya atau saat-saat dapet THR atau bonus. Selain itu, coba browsing fancam konser tersebut pas turnya singgah di negara lain. Lihat dulu kira-kira lebih seru konser siapa. Kalo buat gue sih ya, konser lebih seru buat ditonton langsung kalo banyak fanservice-nya karena pasti bakal beda di tiap negara dan di DVD konsernya nggak bakal ada, terutama kalo ada bagian idol nge-cover lagu orang, misalnya waktu Ryeowook Super Junior nyanyi Bunga Terakhir atau Astro nyanyi Kesempurnaan Cinta.

Nonton Super Show 6 sehari setelah acara ultah kantor. Indonesia adalah perhentian terakhir SS6 di luar Korea Selatan dan Super Junior akan istirahat sebelum SS7 mulai karena sebagian besar anggotanya wamil, jadi HARUS BANGET nonton!

Minggu, 08 April 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Anecdote : WHAT SHOULD I DO??

Hai!!!

Gue balik ngebawa cerita soal Singapore lagi, walau di postingan ke-3 gue udah bilang kalo itu postingan terakhir. Hahaha. Sayah mah gitu orangnya, gak bisa dipercaya. Ya abis gimana, setelah ngepos gue baru sadar kalo gue utang cerita soal colokan listrik, dan inget juga hal-hal konyol lain yang terjadi selama solo trip gue ini.



Kisah I : Tentang Colokan Listrik

Jadi, dari awal sebenernya gue udah tau kalo Singapore itu punya jenis soket listrik 3 kaki, beda sama Indonesia yang 2 kaki. Oleh karena itu, gue pun udah beli colokan universal, yang bisa dipake di mana aja, supaya charger gue bisa dipake di Singapore. Apa daya, pas gue sampe Singapore, gue baru sadar kalo tuh colokan ketinggalan. Hahahaha. Mau beli lagi kok sayang duit, apalagi colokan gue yang di rumah juga baru beli dan belum sempet gue pake. Mau pinjem hostel, ternyata disewain. Bah!

Yang kayak gini loh...

Untung bawa powerbank yang masih bisa dipake buat 1 kali nge-charge lagi. Tapi bagaimana dengan besoknya? Akhirnya gue minta temen gue, si Fanny, bawain colokan universal. Tapi dia nggak punya. Dia trus minjemin powerbank dia ke gue. Powerbank dia udah diisi full di kantor. Sementara itu, powerbank gue dibawa dia buat di-charge di apartemennya. Besok paginya, kami tukeran powerbank lagi. Sore di hari kedua, gue ketemu temen gue, si Indi. Naaah dia punya colokan universal, jadi gue dipinjemin. Pas hari ketiga, karena gue ketemuan lagi sama dia, gue balikin deh tuh colokan. Gue make colokan itu buat charge handphone dan powerbank, jadi listrik aman sampai gue mendarat kembali ke Jakarta.

See? Aku tak bisa hidup tanpa temaaaaan......


KISAH II : Beli Siomay 

Gue udah cerita sebelumnya kalo dari hostel gue, Royal Hostel Singapore, gue dikasih kupon sarapan di restoran ujung jalan, Nanyang Old Coffee. Naaah... dari hostel gue, udah ditetapkan tuh menu makanan apa aja yang bisa kita santap secara gratis, yaitu: loh mai gai (glutinous  rice with chicken), fun choy (rice with roasted pork), dan nasi lemak. ATAU dapet diskon SGD 2 untuk menu lainnya. Gue sih udah pernah makan nasi lemak ya, dan seinget gue, gue bakal dapet telor, ikan selar, teri, sambal. Agak kayak nasi uduk di Jakarta deh. Dan dulu, gue pernah makan nasi lemak di Bugis enaaak... Hari pertama, gue pesen itu. Ternyata eh ternyata, ikan selarnya udah letoy dan terinya ga ada rasa. Hahahahaha. Gile padahal masih pagi. Itu nasi lemak dibungkusnya jam berapa yak? Untuk minum, gue pesen teh bayar sendiri. Heran gue, harusnya sarapan ya paket makanan sama minum dong ya. Tehnya harganya di bawah SGD 2 tapi yaa lumayan berarti kalo dirupiahin di atas Rp 10.000 juga untuk secangkir kecil.

Di hari kedua, gue mesen fun choy. Abiiisss belom makan babi masa, padahal dari Jakarta udah ngidam hahaha. Kali ini, walau nasinya dingin, secara keseluruhan rasa makanannya enaaaak.... Dan kali ini gue milih kopi susu buat minumnya. Ya ampuuun ternyata kopi susunya enak buangettt!!! Walau cuma secangkir kecil ya... Beh! Usut punya usut, ternyata Nanyang Old Coffee ini emang terkenal sama kopinya dan kalo siang-siang emang banyak yang antre beli kopi. Tau gitu ya.


Karena di hari pertama ada yang pesen siomay dan gue penasaran sama rasa siomay-nya, gue pun memutuskan menambah sarapan gue dengan siomay. Gue liat di menu, harga sepiring siomay isi 2 SGD 0,8 alias sekitar Rp 8 ribuan. Murahlah yaaa... Jadi gue pesen. Pelayannya punya pronunciation bahasa Inggris agak payah, jadi gue dan dia komunikasi agak pake bahasa tubuh. Dia nanya, "one?" gue bilang, "yes one portion!" Ternyata yang dateng siomay sebiji doang. Gue bilang, kok nggak dua? Ternyata harga naik jadi SGD 1,6. SGD 0,8 itu harga sebiji siomay rupanya. Lah kenapa di menu dipasang foto sepiring 2 siomay???? Ya sudahlah tapi gue tetep beli aja. Hahahaha...

Siomay enam belas ribu. Untung enak. Hehehe
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...