Pages

Senin, 04 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 1 - Atur Itinerary dengan Discover Seoul Pass


Ketemu lagi di postingan soal jalan-jalan!!! Kali ini gue ke Seoul bareng sepupu gue, Anggi, selama 6 hari 5 malam. Sebenernya berangkatnya tanggal 24 Mei 2018 dari Jakarta dan pulang 30 Mei 2018 pagi dari Incheon Airport. Cuma karena landing-nya 25 Mei, jadi dihitung 6 hari aja yes!

Untuk liburan kali ini, kami nggak menggunakan jasa travel tapi modal nekat jalan-jalan sendiri. Beruntung kami menemukan informasi soal Discover Seoul Pass, yaitu kartu yang dikeluarkan Seoul Tourism Organization dan Seoul Metropolitan Government untuk membantu wisatawan asing menikmati kota Seoul. Ada 34 tempat wisata yang dapat wisatawan masuki secara gratis menggunakan DSP ini dan 30 tempat wisata lain yang memberikan diskon tiket masuk menggunakan kartu ini. Selain itu, kartu ini juga memberikan 1 kali gratis AREX alias kereta bandara express dari Incheon Airport ke Seoul Station atau sebaliknya, dan juga berfungsi sebagai T-money card yaitu kartu pembayaran untuk naik kereta, bis, taksi selama di Seoul. Untuk fungsi terakhir, kartu harus diisi dulu di stasiun kereta terdekat. Kartu DSP ini terdiri dari 3 waktu penggunaan berbeda, yaitu: 24 jam seharga 39.900 Won, 48 jam seharga 55.000 Won, dan (yang terbaru) 72 jam seharga 70.000 Won. Waktu ini bukan dihitung per hari sejak kartu kita dapatkan tapi per jam sejak kartu kita gunakan untuk pembelian tiket wisata pertama. Nanti akan gue jelasin lebih lanjut.

Waktu gue dan Anggi beli kartu ini, belum ada yang 72 jam, jadi kami beli yang 48 jam di Klook, supaya dapet diskon. Di Klook, tersedia peta tempat-tempat wisata yang ter-cover DSP, sangat membantu buat nyusun itinerary untuk melihat tempat mana aja yang letaknya deketan. Kalau lihat peta, kebanyakan tempat wisata klasik berlokasi di daerah Jongno-Gu sedangkan beberapa agak jauh di Apgujeong-Gangnam. Oleh karena itu, gue dan Anggi pun memilih tempat menginap untuk 2 malam pertama (hari penggunaan DSP) di daerah Jongno-Gu. Sisanya, kami pindah ke daerah universitas Ewha, tapi akan gue ceritain di pos berikutnya karena pos ini fokus bercerita tentang penggunaan Discover Seoul Pass. 

Ketika membeli DSP di Klook, pembeli akan diminta memilih tempat pengambilan kartu. Karena kami bakal mendarat di Incheon melalui Terminal 1 (kami naik Singapore Airlines yang mendarat di Terminal 1), maka kami memilih tempat pengambilan di Terminal 1. Hari pengambilan harus diisi dengan tepat pada saat pembelian kartu. Oiyaa... ngomong-ngomong, jika kalian mengalami kebingungan terkait DSP, kalian bisa tanya-tanya ke Customer Service di website Discover Seoul Pass lho. Klik aja tanda speech bubble di kanan bawah, Customer Service bakal langsung membalas kita dan menerangkan dengan rinci semuanya. Gue sempet nanya beberapa kali terkait tiket AREX dan SM Town Museum yang baruuu aja masuk ke daftar atraksi gratis di DSP tepat sebelum gue berangkat dan selalu mendapat penjelasan yang memuaskan.

Setelah beli DSP, tentu kami merancang tujuan kami dong. Jangan sampai 55.000 Won yang udah dikeluarkan nggak terpakai maksimal! Sayangnya, contekan rincian itinerary DSP yang efektif dan efisien susah ditemui walau gue udah utak-atik keyword Mbah Google. Jadi deh, gue dan Anggi ngerancang sendiri. Rancangan awal kami adalah seperti ini:

25 Mei 2018
Jongmyo Shrine : 1.000 Won
Changdeokgung : 3.000 Won
Changgyeonggung : 1.000 Won
Gyeongbokgung : 3.000 Won

26 Mei 2018
Teddy Bear Museum : 10.000 Won
N Seoul Tower Observatory Deck : 10.000 Won
Grevin Museum :18.000 Won
Coex Aquarium : 28.000 Won
SM Town Museum : 18.000 Won
SM Town Theater : 15.000 Won

27 Mei 2018
MBC World : 18.000 Won

Kalau semua berjalan sesuai rencana, total pengeluaran tiket sudah 125.000 Won. Berarti kami bisa hemat 70.000 Won dengan DSP. WOW!! Semangat banget kan jadinya???? Tapi apa semua rencana bisa terlaksana? Ternyata tidak. Mwahahahah.... Mari dibaca ceritanya satu per satu.


Sabtu, 12 Mei 2018

Jalan-jalan ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Gue lagi nganggur beberapa hari Minggu yang lalu. Sesuatu yang jarang, karena biasanya gue latihan keroncong di gereja. Tapi karena jadwal pelayanan selanjutnya jatuh di hari kerja yang gue nggak bisa cuti, jadilah gue beristirahat dulu. Gue pikir Minggu ini gue bisa leyeh-leyeh di rumah. Siapa sangka, Bokap malah nyuruh gue nemenin ke bandara buat nganter tamunya pulang ke Taiwan. Maklum, Bokap males bawa mobil dan lebih milih naek bis bandara dan gue kan lebih jago ya soal pertransportasi-umuman. Jadi yaa sudahlah, let's go ke bandara!


Yang kami tuju hari ini adalah Terminal 3, terminal paling anyarnya Bandara Soekarno-Hatta, karena pesawat tamu bapak gue berangkat dari terminal ini. Buat gue pribadi, ini adalah pengalaman kedua gue setelah pas ke Singapore Maret lalu. Terminal 3 jadi terminal favorit gue karena desainnya yang simpel, membuat terminal ini kelihatan luas dan nggak ngebingungin dengan lorong-lorong kayak terminal lainnya dan... banyak tempat jajan. Hahahaha. Ketauan banget tukang jajan!

Kami pergi naik Gocar ke Pondok Indah Mal 2 dan langsung naik bis JAConnexion punya PPD buat ke bandara Soekarno Hatta. Tarifnya Rp 35.000 per orang dan lewat tol JORR. Jarak tempuh sekitar 1 jam. Bis ini sepertinya belum sepopuler Damri yang mangkal di Terminal Lebak Bulus karena bisnya masih sepiiii banget. Alhasil, ketimbang berhenti di semua terminal, si sopir nanya dulu penumpangnya pada turun di mana. Hari itu, semua penumpang turun di Terminal 3, jadi bis langsung ke Terminal 3.

Bis JAConnexion ini berangkat sejam sekali dari PIM 2, entah kalo dari mal-mal lain. Oiya, bis ini mangkalnya di mal-mal ya, kayak Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, dll. Bisnya bersih dan ada wifi-nya. Kalau mau tau seputar bis ini, di-google aja yak. Informasinya banyak kok. Ketik kata kunci JAConnexion aja udah langsung keluar.

Jadwal bis JAConnexion. Liat jadwal paling malamnya tuh jam 8, kira-kira sampai bandara jam 9. Kalau kamu mendarat lewat dari jam itu, mending langsung cari taksi aja.
Gue dan Bokap naik yang jadwal jam 9 pagi, sampai di Terminal 3 jam 10 pagi. Hari Minggu sih yaa jadi nggak macet.

Nah sekarang soal Terminal 3, terminal favorit gue di Soetta. Gue heran, banyak yang bilang kalau bandara ini gede banget dan ngebingungin. Bahkan temen kantor gue yang lebih sering terbang daripada gue juga berpikir kayak gitu. Padahal sebenarnya nggak gitu-gitu amat deh. Gede iya, tapi ngebingungin nggak, karena dari ujung ke ujung tuh semua keliatan dan papan informasi serta kru bandara ada di mana-mana. 


Setelah turun di bagian keberangkatan internasional, gue menaruh tas untuk dicek, lalu masuk. Inilah pemandangan yang gue dapetin di dalam terminal kalo gue nengok ke sebelah kanan. Rangkaian counter check in dari berbagai maskapai. Untuk keberangkatan internasional pastinya, karena gue kan masuk di bagian internasional. Untuk domestik, masih terus jalan lurusssss....  Lambang dan nama maskapai jelas terpampang di atas counter. Tersedia juga alat untuk self check in. Jadi kalau kamu pergi nggak bawa bagasi, cuma tas yang bisa masuk kabin, kamu bisa self check in langsung di alat ini. Tapi kalau bisa web check in mending web check in aja biar nggak ribet dan bisa langsung masuk imigrasi yang ada di sebelah kiri pintu masuk.

Di sebelah kiri, ada Secure Bag alias tempat untuk membungkus koper kita. Jadi, kalau kamu takut koper kamu rusak selama penerbangan, kamu bisa ngebungkus koper kamu pake plastik di sini. Tapi bayar yaa..

Di depan mata, setelah kursi-kursi untuk menunggu dan juga beberapa display tanaman, kita akan disuguhi pemandangan berbagai macam restoran mulai dari Shaburi, Paper Lunch, Bakmi GM, sampai Starbucks. Ada juga mini market dan toko buku. Kebanyakan restoran menyajikan pemandangan ke landasan juga. Jadi sambil makan atau minum nunggu jadwal keberangkatan, kita bisa nontonin pesawat datang dan pergi.

Ini pemandangan dari Bakerzin, tempat gue makan kemarin. Seru juga ngeliatin pesawat mendarat dan lepas landas.
Bagian kedatangan tempat kita masuk adalah di lantai atas, sementara lantai di bawahnya cuma diperuntukkan untuk penumpang rute internasional yang udah check in alias punya tiket pesawat--kalo cuma nganter kayak gue nggak boleh masuk! Di bawah sebenarnya lebih keren lagi restoran dan toko-tokonya, tapi karena gue bukan penumpang, gue nggak bisa fotoin deh.


Minggu, 22 April 2018

Tips Menikmati Konser Kpop di Indonesia





Pencinta Kpop mana pun pasti memasukkan "nonton konser Kpop" dalam salah satu daftar Things To Do Before I Die-nya. Silakan ganti kata "Kpop" jadi grup bias kamu, bisa EXO, BTS, iKON, Twice, dll. sesuai selera. Gue pun begitu. Buat gue yang SM stan kelas berat, rasanya konser semua artis SM gue pengin nonton, baik yang konser tunggal maupun konser gabungan macam SM Town dan Music Bank. Dan nonton konser tuh nggak pernah cukup cuma sekali karena konsep setiap konser dari satu artis biasanya berbeda dengan yang lainnya. Jadi, kalau bisa, semua didatengin. Sayangnya, kita sebagai fans selalu terbentur satu masalah: DUIT.

Harga tiket Kpop terkenal lebih mahal dibanding konser-konser musik lain. Nggak heran, karena konser Kpop nggak sekadar menyajikan idola yang menyanyi dan menari tapi biasanya diikuti pula dengan desain panggung yang wah, tata cahaya yang poll abis, dan juga sound system yang oke. Selain itu, durasi konser Kpop juga biasanya lama, 3 jam bahkan bisa lebih, dan artis-artisnya banyak melakukan fanservice yang menjadi pengalaman tak terlupakan untuk fans yang hadir. Tapi ya itu... kepuasan itu memang harus dibayar dengan harga yang lebih mahal.

Masalah duit ini bukan hanya dialami oleh fans-fans usia sekolah dan kuliah yang belum punya penghasilan kok. Untuk gue yang udah kerja pun hal ini masih jadi masalah. Gaji sih emang dapet, tapi kan kebutuhan juga meningkat dan gaji nggak semata-mata uang nganggur yang bisa dihambur-hamburkan buat nonton konser kaan.... Namun, seperti gue bilang tadi, bener banget kalau nonton konser idola kamu tuh harus masuk daftar Things To Do Before I Die dan gue sangat menyarankan untuk setiap Kpopers untuk paling nggak sekali aja nonton idolanya secara langsung (walau selanjutnya kamu bakal ketagihan).

Berbekal pengalaman gue ke 7 konser Kpop selama 8 tahun terakhir ini (6 di Indonesia, 1 di Singapore), gue akan ngasih tips ke kalian yang gue harap bisa menyemangati kalian untuk beli tiket dan dateng ke konser idola kalian dengan nyaman dan kepuasan maksimal.

TIPS 1 : MAU NONTON KONSER YANG MANA?

Gue cuma ngomongin soal konser di Indonesia, ya, karena pasti kalo konser di luar negeri butuh lebih banyak persiapan dan pertimbangan. Selain itu, gue sih lebih suka nonton konser di Indonesia karena artis-artisnya bakal banyak bicara bahasa Indonesia atau nyanyi lagu Indonesia. Berasa lebih spesial aja gitu.

Biasanya, Indonesia adalah negara kesekian dalam urutan negara yang akan dikunjungi si artis dalam rangkaian turnya. Kalau beruntung, jadwal komplet sudah diumumkan dari awal sehingga kamu bisa atur rencana dengan matang. Kalaupun nggak, siap-siap aja dulu. Ikuti akun-akun sosial media promotor, kali-kali aja mereka ngasih bocoran bakal bawa artis tersebut ke Indonesia. (Mecima Pro // IME Production //  Dyandra Promosindo) atau website berita Kpop Indonesia (Korean Updates // Koreanindo).

Dalam setahun, artis yang datang bisa lebih dari satu. Buat yang single fandom, hal ini nggak masalah karena udah jelas yang diincar konser yang mana. Buat yang multifandom, kamu harus pikirin masak-masak budget kamu dan timing konsernya, mana yang dirasa paling pas. Jangan sampai uang kamu ludes karena kebanyakan nonton konser dan jangan sampai juga nilai kamu jeblok gara-gara nonton konser pas musim ujian. Buat yang udah kerja, perlu pikirin juga saat-saat kerjaan sedang numpuknya atau saat-saat dapet THR atau bonus. Selain itu, coba browsing fancam konser tersebut pas turnya singgah di negara lain. Lihat dulu kira-kira lebih seru konser siapa. Kalo buat gue sih ya, konser lebih seru buat ditonton langsung kalo banyak fanservice-nya karena pasti bakal beda di tiap negara dan di DVD konsernya nggak bakal ada, terutama kalo ada bagian idol nge-cover lagu orang, misalnya waktu Ryeowook Super Junior nyanyi Bunga Terakhir atau Astro nyanyi Kesempurnaan Cinta.

Nonton Super Show 6 sehari setelah acara ultah kantor. Indonesia adalah perhentian terakhir SS6 di luar Korea Selatan dan Super Junior akan istirahat sebelum SS7 mulai karena sebagian besar anggotanya wamil, jadi HARUS BANGET nonton!

Minggu, 08 April 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Anecdote : WHAT SHOULD I DO??

Hai!!!

Gue balik ngebawa cerita soal Singapore lagi, walau di postingan ke-3 gue udah bilang kalo itu postingan terakhir. Hahaha. Sayah mah gitu orangnya, gak bisa dipercaya. Ya abis gimana, setelah ngepos gue baru sadar kalo gue utang cerita soal colokan listrik, dan inget juga hal-hal konyol lain yang terjadi selama solo trip gue ini.



Kisah I : Tentang Colokan Listrik

Jadi, dari awal sebenernya gue udah tau kalo Singapore itu punya jenis soket listrik 3 kaki, beda sama Indonesia yang 2 kaki. Oleh karena itu, gue pun udah beli colokan universal, yang bisa dipake di mana aja, supaya charger gue bisa dipake di Singapore. Apa daya, pas gue sampe Singapore, gue baru sadar kalo tuh colokan ketinggalan. Hahahaha. Mau beli lagi kok sayang duit, apalagi colokan gue yang di rumah juga baru beli dan belum sempet gue pake. Mau pinjem hostel, ternyata disewain. Bah!

Yang kayak gini loh...

Untung bawa powerbank yang masih bisa dipake buat 1 kali nge-charge lagi. Tapi bagaimana dengan besoknya? Akhirnya gue minta temen gue, si Fanny, bawain colokan universal. Tapi dia nggak punya. Dia trus minjemin powerbank dia ke gue. Powerbank dia udah diisi full di kantor. Sementara itu, powerbank gue dibawa dia buat di-charge di apartemennya. Besok paginya, kami tukeran powerbank lagi. Sore di hari kedua, gue ketemu temen gue, si Indi. Naaah dia punya colokan universal, jadi gue dipinjemin. Pas hari ketiga, karena gue ketemuan lagi sama dia, gue balikin deh tuh colokan. Gue make colokan itu buat charge handphone dan powerbank, jadi listrik aman sampai gue mendarat kembali ke Jakarta.

See? Aku tak bisa hidup tanpa temaaaaan......


KISAH II : Beli Siomay 

Gue udah cerita sebelumnya kalo dari hostel gue, Royal Hostel Singapore, gue dikasih kupon sarapan di restoran ujung jalan, Nanyang Old Coffee. Naaah... dari hostel gue, udah ditetapkan tuh menu makanan apa aja yang bisa kita santap secara gratis, yaitu: loh mai gai (glutinous  rice with chicken), fun choy (rice with roasted pork), dan nasi lemak. ATAU dapet diskon SGD 2 untuk menu lainnya. Gue sih udah pernah makan nasi lemak ya, dan seinget gue, gue bakal dapet telor, ikan selar, teri, sambal. Agak kayak nasi uduk di Jakarta deh. Dan dulu, gue pernah makan nasi lemak di Bugis enaaak... Hari pertama, gue pesen itu. Ternyata eh ternyata, ikan selarnya udah letoy dan terinya ga ada rasa. Hahahahaha. Gile padahal masih pagi. Itu nasi lemak dibungkusnya jam berapa yak? Untuk minum, gue pesen teh bayar sendiri. Heran gue, harusnya sarapan ya paket makanan sama minum dong ya. Tehnya harganya di bawah SGD 2 tapi yaa lumayan berarti kalo dirupiahin di atas Rp 10.000 juga untuk secangkir kecil.

Di hari kedua, gue mesen fun choy. Abiiisss belom makan babi masa, padahal dari Jakarta udah ngidam hahaha. Kali ini, walau nasinya dingin, secara keseluruhan rasa makanannya enaaaak.... Dan kali ini gue milih kopi susu buat minumnya. Ya ampuuun ternyata kopi susunya enak buangettt!!! Walau cuma secangkir kecil ya... Beh! Usut punya usut, ternyata Nanyang Old Coffee ini emang terkenal sama kopinya dan kalo siang-siang emang banyak yang antre beli kopi. Tau gitu ya.


Karena di hari pertama ada yang pesen siomay dan gue penasaran sama rasa siomay-nya, gue pun memutuskan menambah sarapan gue dengan siomay. Gue liat di menu, harga sepiring siomay isi 2 SGD 0,8 alias sekitar Rp 8 ribuan. Murahlah yaaa... Jadi gue pesen. Pelayannya punya pronunciation bahasa Inggris agak payah, jadi gue dan dia komunikasi agak pake bahasa tubuh. Dia nanya, "one?" gue bilang, "yes one portion!" Ternyata yang dateng siomay sebiji doang. Gue bilang, kok nggak dua? Ternyata harga naik jadi SGD 1,6. SGD 0,8 itu harga sebiji siomay rupanya. Lah kenapa di menu dipasang foto sepiring 2 siomay???? Ya sudahlah tapi gue tetep beli aja. Hahahaha...

Siomay enam belas ribu. Untung enak. Hehehe

Jumat, 06 April 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Part 3 : Kaki Berkonde di Singapore


Selamat datang di posting ke-3 soal gue di Singapore!!!


Seperti gue udah cerita, tujuan jalan-jalan gue kali ini lebih banyak ke daerah taman dan tempat-tempat yang mengharuskan gue jalan kaki. Makanya, judul episode kali ini adalah Kaki Berkonde di Singapore. Karena gue emang pulang dengan kaki berkonde alias betis pegel abissss... Gila ya gue, mau olahraga aja mahal banget ke Singapore! LOL.

Kisah jalan-jalan gue dimulai dari setelah gue mandi di hostel, lalu nyamperin temen gue si Fanny, yang kerja di Parkview Square, Bugis. Kenapa gue nyamperin dia? Karena kantor dia ini punya arsitektur yang WOW! Terkenal dengan nama Gedung Batman karena bentuk gedungnya yang ngingetin kamu sama Gotham City, di dalam gedung ini juga ada bar yang punya nuansa The Great Gatsby, Atlas Bar. Keren banget deh pokoknya!

Sayang, karena gue baru datang sekitar jam setengah tujuh malam, barnya udah buka dan turis nggak boleh masuk ke dalam bar buat foto-foto. Padahal kalau siang boleh lho. Akhirnya gue cuma foto sama lemari ginnya aja yang legendaris itu. Di halaman luar terdapat beberapa patung dan mungkin kalau gue datangnya siangan dikit akan sangat cantik foto-foto di situ. Sayangnya, cuaca udah menggelap dan banyak angin.


Kalo ada yang pesen gin, bartender cewek-nya bakal "terbang" ambil botol di lemari di belakang gue

Kalau mau ke Parkview Square, dari MRT Bugis kamu tinggal pilih Exit E dan kamu akan berada di The Duo Building. Tinggal jalan dan nyebrang jalan kecil gitu, sampe deh!!! Bisa masuk tanpa diperiksa dan ditanya ini-itu, dan pastinya gratis!! Ini emang salah satu tempat buat turis foto-foto kok.

Foto di depan Parkview Square dulu. Angin kenceng bangeeet...

Jumat, 23 Maret 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Part 2 : Hi Singapore!

Akhirnya hari perjalanan!!!



Flight gue ke Singapore adalah flight siang, pukul 11.10 WIB, dengan Air Asia. Sengaja gue pilih jam segini karena jarak dari rumah ke Soekarno-Hatta lumayan jauh dan jalanannya nggak bisa ditebak. Emang sih sekarang ada tol JORR yang nyambung ke bandara, tapi tolnya suka macettttt....

Gue dianter bokap ke Pondok Indah Mal 2, karena mau naik bis JAConnexion alias bis bandara baru dari PPD. Bis ini baru, jadi mungkin belum banyak yang tau. Taunya masih Damri doang. Bis ini sama bagusnya dengan Damri, cuma harganya lebih murah. Kalau naik Damri dari terminal Lebak Bulus tiketnya Rp 40.000, kalau JAConnexion ini Rp. 35.000. Selain di PIM, bis-bis ini juga ada di beberapa mal. Emang spesialis mangkal di mal kayaknya. Bis ini berangkat setiap 1 jam, dan gue naik yang jam 7 pagi. Kepagian? Nggak juga. Seperti gue bilang, jalan ke bandara nggak ketebak. Better early than late, kan? Selain itu, Air Asia sekarang pindah ke Terminal 3, terminal baru yang katanya gede banget. Mungkin akan makan waktu buat nyari-nyari gate dsb.

Ternyata jalanan lancar. Jam 8 gue udah sampe bandara. HAHAHAHA! Terminal 3 ternyata nggak sebesar yang gue takutin. Malah, lebih simpel ketimbang Terminal 2 yang banyak lorongnya. Setelah masuk, kita bakal berhadapan dengan sebuah ruangan besar. Counter-counter maskapai bertebaran. Yang agak tricky, counter Air Asia ada di sebelah kanan ruangan sedangkan ruangan check in, imigrasi dsb di sebelah kiri. Untungnya, karena gue udah web check in via website Air Asia sehingga boarding pass udah di tangan dan gue gak bawa bagasi (cuma bawa 1 ransel dan 1 tas selempang), gue bisa langsung melenggang masuk imigrasi tanpa antre. Hehehehe. Tapi masuknya sih ntaran ajaaa.... Gue mending sarapan dulu.

Ada banyak restoran di Terminal 3 ini, tapi pilihan jatuh ke Bakmi GM (haha!) Bakmi GM punya tempat duduk menghadap ke landasan, jadi gue bisa nontonin pesawat lalu lalang sambil makan, mostly Garuda. Selesai makan gue ke WC yang antre bangeeeddd... Tapi WCnya bersih dan ada tempat buat naro tas, jadinya buat solo traveler kayak gue nyaman banget. Mbak cleaning service-nya juga ada di sana dan sigap ngebersihin WC setiap saat.

Di imigrasi, ransel, tas selempang, badan dicek. Buat wanita, pemeriksanya juga wanita. Ransel sempet dibuka dan dicek detail, tapi amaaan... Pas cek pasport gue cuma ditanya, "Pergi sendiri aja?" yang gue jawab singkat, "Iya", trus pasport dibalikin dan gue bisa lewat. Oiya, sedikit cerita tentang cairan. Buat naik pesawat, ada batasan pembawaan cairan yaitu kita harus menggunakan botol maksimal 100 ml dengan total volume seluruh botol yang dibawa nggak lebih dari 1 liter, semuanya ditaruh di tas/kantong transparan. Gue beli travel kit miniso buat bawa sampo, sabun cair, sabun muka, dan aloe gel. Selain itu, sikat gigi dan odol gue taruh di kantong plastik 1 kiloan. Semuanya gue taro di kantong depan ransel gue supaya mudah ditemukan dan diperiksa. Selain itu, gue juga bawa botol minum kosong buat gue isi di dalam karena Terminal 3 ini nyediain keran air minum kayak di luar negeri. Setelah lolos pengecekan, di ruang tunggu, gue gembok ransel gue supaya aman. Namanya juga solo traveler, semua harus aman terutama tas. Jangan sampe ada yang masukin barang terlarang ke tas gue pas gue meleng!

Travel kit ini berguna banget, harganya juga cuma Rp 29.500, murah!!

Air Asia yang mau gue naikin akan berada di Gate 5, jadi gue jalan ke sana. Gate 5 terletak di ujung. Terminal 3 besar siiih, tapi karena berupa satu ruangan besar, gue nggak bingung. Semua ada angkanya gede dan informasinya lengkap. Di setiap gate ada WC dan WCnya bersih karena sepi. Ada beberapa keran air minum juga. Seperti yang udah gue bilang, buat gue sih ribetan Terminal 2 ketimbang Terminal 3. Banyak toko dan restoran juga di daerah situ. Daaaan.... ini gue sebenernya pengin coba, tapi gue takut ketiduran dan ketinggalan pesawat: ada area kursi malas buat kita istirahat! WOW!

Pesawat gue ternyata delay 30 menit sehingga disalip sama Air Asia tujuan Manila. Selain delay, dia pindah gate juga ke gate di wilayah yang belum dibuka untuk umum. Oleh karena itu, semua penumpang dibawa naik bis ke sisi sana baru naik ke pesawat. Namun, sekali lagi, informasi cukup jelas. Televisi petunjuk langsung update informasi, ground crew juga informatif. Ngantre dikit buat naik bis nggak apa-apalah asal selamat, yekaaan?

Singkat cerita, pesawat terbang mulus. Gue nggak milih tempat duduk dan nggak pesan makanan, jadi gue duduk di tengah. Nggak apa-apa, masih bisa liat keluar jendela di sebelah kanan gue. Dan untungnya, karena sebelah gue adalah bapak-bapak muda yang bawel, cerita melulu ke anaknya yang ada di seberang lorong, gue jadi rileks dan fokus nguping cerita si bapak, padahal aslinya gue cukup parno naik pesawat. Makasih loh Pak. Pelajaran yang gue petik dari perjalanan ini adalah, bawah orang annoying pun bisa jadi membantu pada saat yang tepat. Jadi, mengucap syukur senantiasa ya!

DAN TIBALAH GUE DI CHANGIIII!!!!!

Muka senang setelah mendarat di Changi, sebelum bertemu Om Imigrasi yang jutek

Kamis, 22 Maret 2018

Solo Trip Singapore 3D2N - Part 1: Perencanaan

HUAAAIII!!!!

Akhirnya gue punya bahan buat ditulis di blog yang udah berdebu ini!!
Sebenernya bahan sih banyak ya, tapi guenya aja yang males. Hahahaha.



Kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman solo trip gue ke Singapore tanggal 9-11 Maret 2018 kemarin. Solo dalam artian gue ngerencanain semua dan pulang-pergi sendiri. Masalah di sananya ternyata ketemu temen dan ikut agenda temen, yaaa anggap aja itu berkah perjalanan. Hahahaa.

Ceritanya, di tanggal 11 Maret gue ulang tahun. Seperti biasa, gue harus belajar satu hal baru di umur baru. Berkebun, nyoba belajar saham, dll merupakan contoh resolusi ulang tahun yang pernah gue lakukan. Perkara lanjut apa nggaknya, yaaa liat aja. Yang penting kan gue udah belajar sesuatu yang baru. Naaah, di tahun ini, solo trip adalah resolusi gue. Kenapa solo trip? Karena katanya dengan solo trip, kita jadi bisa lebih bertanggung jawab sama hidup kita dan kreatif menghadapi masalah yang menghadang, karena kita ga punya siapa pun di sebelah kita buat bantu. Hahahaha. Kesannya menantang banget ya? Padahal, apakah kenyataannya gitu? Nggak juga. Nanti bakal tau ceritanya deh.

Itinerary gue bukan itinerary orang yang nge-trip ke Singapore biasanya, karena ini sebenarnya kali ke-4 gue ke Singapore dan gue emang nggak menyasar wisata belanja, kuliner, atau tempat-tempat wisata yang lagi booming (kecuali Gardens by the Bay karena gue belum pernah ke sana). Gue berencana lebih santai dan berfokus ke area hijaunya Singapore. Singapore, walau negara kecil dan metropolis, juga jor-joran membangun taman lho, dan tamannya ini nggak main-main, sampai menyerupai hutan juga. Pada kunjungan gue di 2009, gue sampe yang ter-wow-wow banget sama Jurong Bird Park-nya yang super duper hijau dan... gue nggak ngerti sampai sekarang ya... burung-burung bisa bebas terbang di langit Bird Park-nya tanpa jaring atau pengaman apa pun tapi nggak kabur dari situ. Heran gue, kok bisa. Apa karena mereka puas sama makanan di bird park-nya ya, sampe betah gitu? Selain Jurong Bird Park, masih banyak tempat hijau lain seperti Southern Ridges dan Singapore Botanic Garden yang guedeee buanget dan terkenal sama National Orchid Garden-nya yang punya nama-nama anggrek dari tokoh-tokoh politik dunia. Itinerary awal gue yang gue rancang sendiri sebenarnya udah super santai dan yang pasti irit. Namun pada kenyataannya, banyak rencana gue meleset baik karena waktu maupun kekuatan kaki (lalala) tapi malah jadi lebih baik dari rencana gue karena gue dibantu dua temen gue yang permanent resident Singapore yang lebih ngerti Singapore--see? solo trip gue sangat tidak mandiri kan?--jadi.... gue share itinerary gue yang jadi kenyataan aja yaa...

INI ITINERARY GUE (YANG JADI KENYATAAN)

Jumat, 9 Maret 2018
Landing kira-kira jam 2 siang di T4 Changi
Makan siang di Changi Staff Canteen T2 yang katanya murah dan enak
Ke Bugis, Parkview Square alias gedung Batman, tempat kerja teman yang emang tourist spot dengan Atlas Bar-nya yang bergaya The Great Gatsby
Jalan-jalan ke daerah Raffles Place buat ngeliat keramaian di sekitar situ dan berakhir di Marina Bay Sands untuk ngeliat Spectra

Sabtu, 10 Maret 2018
Jalan pagi menyusuri Mount Faber-Henderson Wave-Southern Ridges dan makan pagi di Ikea Alexandra Rd.
Ke Gardens by the Bay terutama ke Flower Dome dan Cloud Forest
Ke Sri Mariamman Temple dan Buddha Tooth Relic Temple di kawasan Chinatown
Makan malam di Plaza Singapura Dhoby Ghaut bareng temen

Minggu, 11 Maret 2018
Beli oleh-oleh di Chinatown
Makan siang di Singapore Botanic Garden dan ke National Orchid Garden-nya
Masuk T4 Changi lebih cepat buat jalan-jalan di bagian Departure dan nonton drama peranakan trus pulang deh.
Pengin liat Supertree Grove di Gardens by the Bay serta kawan-kawannya. Sumber: http://www.gardensbythebay.com.sg 
The Halia, restoran yang populer di Singapore Botanic Garden. Sumber: https://www.sbg.org.sg

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...