Pages

Minggu, 19 Januari 2025

Being a New Employee at (Almost) 40

Hai!! Kembali lagi bertemu saya yang sudah absen ngepos blog luamaaaa buanget. Ngoahaha.
Ya maap, kesibukan, walau klise, memang menjadi alasan utama dan satu-satunya saya mengabaikan blog ini sekian lama. 

However, kali ini saya kembali dengan update kehidupan yang tiba-tiba membawa kejutan sejak tengah tahun 2024 kemarin.

SAYA PINDAH KERJA!!!!!

Yaaaay!!!!

Yep, setelah 12 tahun bekerja sebagai Legal di salah satu institusi pendidikan swasta yang, I'm proudly say this, terunggul di Indonesia, saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke satu perusahaan IT multinasional, masih sebagai Legal tapi sekarang ditambah Compliance. Di umur 39 tahun lewat. Usia yang kalau menurut orang-orang udah sulit buat diterima kerja.

LATAR BELAKANG

Kalau ngomongin usia dan periode bekerja, kebanyakan orang bakal tanya, "Kok berani sih gambling gitu? Nggak takut jadi karyawan baru lagi? Kalau nggak cocok bagaimana, mau pindah kerja ke mana lagi?" dst. Pertanyaan yang sama juga banyak terlontar ketika saya bilang kalau saya mau resign. Status sebagai karyawan lama dengan fleksibilitas kerja dan relasi yang sudah sangat erat dengan sesama karyawan maupun atasan tentu dinilai menjadi hal yang sayang untuk dibuang begitu saja dan makan waktu untuk membangunnya kembali di perusahaan baru. Namun demikian, saya sudah bosan merasa stuck dengan posisi saya. Legal di perusahaan lama saya turn over-nya nyaris nol. Dalam 12 tahun saya bekerja, yang keluar baru 2 orang dan itu juga karyawan kontrak yang habis masa kontraknya dan tidak diperpanjang. Akibatnya, sulit untuk promosi dan job desc-nya jadi monoton. New challenges selalu ada mengikuti perkembangan perusahaan, tapi karena kurang bertemu orang-orang baru, maka tidak ada ide baru, yang ada kami cuma mengerjakannya dengan pendekatan yang sama, dan rutinitas yang sama, kurang inovasi. Saya sudah cukup jenuh.

Selasa, 26 Oktober 2021

Pola Merajut Baju Knitting Gratis (Free) : Mamaika Tee

Balik lagiii!!!! Kali ini dengan konten merajut.
Ini lanjutan dari pos gue sebelumnya soal belajar merajut knitting dari Youtube, di mana gue sebenernya nggak ngajarin apa-apa siiiy, cuma kasih tautan video Youtube milik orang lain, yang gue harap bisa memperkenalkan kalian dengan dunia merajut knitting. Di youtube memang banyak banget orang baik yang membagikan teknik-teknik merajut beneran dari nol sampai jadi. Waktu gue pos itu, kondisi belum kayak sekarang ya, karena dipos di 2019. Naaah... Saat ini gue ingetin lagi, berharap kalau-kalau ada yang tertarik dan dapat ilmu baru, dan kali aja bisa jadi sumber penghasilan kaaan....

Setelah itu, buat yang sudah mulai praktik merajut knitting dan mungkin sudah terbiasa merajut melingkar (kayak bikin topi, cowl, atau baju), gue punya pola buat bikin baju yang simpel tapi enak buat dipakai, cocok buat iklim tropis kayak di Indonesia ini, dengan benang yang dapat dibeli di penjual benang lokal dengan harga terjangkau.


MAMAIKA TEE


Pola hak cipta milik Martina.


Nama pola ini Mamaika Tee karena gue sebenarnya membuat baju ini pertama kali buat mamanya temen gue, Ika. hahahaha. Cara rajutnya dari atas ke bawah, dimulai dari leher ke bahu, lalu nanti dipisah untuk masing-masing lengan. Stitches untuk lengan dipindah dahulu dengan benang sisa sementara kita lanjut merajut badan secara melingkar sampai selesai. Setelah bagian badan selesai, kerjakan bagian lengannya satu persatu sampai selesai. Selesai deh. Simpel kan?

Benang:
  • Qiuknit Kasmilon Fingering (Benang Utama)
  • Ichkler Cotton Lace (Benang bagian Yoke)
Bisa pakai dua benang berukuran fingering, mau dua-duanya warna polos atau satu sembur satu polos. Bahan bisa diganti benang bambu, benang katun, benang rayon, boleh. Asal ukuran fingering. Kalau pakai lace nanti bajunya jadinya bolong-bolong karena rajutannya terlalu longgar. Kalau mau pakai kamisol di dalamnya sih boleh-boleh aja tapi ya. 

Jarum:
  • 40 cm circular needle 3,75mm 
  • 120 cm circular needle 3,75mm
  • DPN 3,25 mm buat bind off, atau jarum jahit kalau mau pakai tubular bind off.
Perlengkapan tambahan:
  • 3 marker (bisa pakai apa saja. Kalau gue pakai potongan sedotan dipotong setipis mungkin). Untuk BOR mending pakai marker beda dari yang lain. Kalau gue pakai sedotan boba, sedangkan sisanya pakai sedotan kopi hehehe.
  • 3 benang sisa dengan ukuran benang sedikit lebih besar dari benang yang kamu rajut, seukuran lingkar lengan lebih sedikit 2 benang dan seukuran lingkar badan lebih sedikit 1 benang. Fungsinya buat menahan rajutan lengan ketika kita merajut badan, dan menahan rajutan badan kalau kita mau fitting. Karena kita pakai benang fingering, enakan pakai benang DK untuk benang ini. Gue pakai sisa benang soft cotton big ply dari Moon and Yarn.
  • Jarum jahit untuk memasang benang untuk menahan rajutan. 
  • Jarum rajut ukuran lebih kecil dari yang dipakai untuk merajut, bisa pakai DPN 3,25 mm atau circular needle, tergantung ketersediaan di rumah. Fungsinya untuk mengembalikan rajutan yang ditahan benang sisa ke jarum rajut utama.

Gauge:
23 stitch x 24 rows = 10 cm x 10 cm belum diblok.

Singkatan:
BOR : Beginning of Round (stitch pertama setiap baris)
K : Knit
P : Purl
M1L : Make 1 Left
M1R : Make 1 Right
K2Tog : Knit 2 together
SKK : Slip-slip Knit 
 

Minggu, 11 Juli 2021

[SHARING] Ketika Nana Operasi Miomektomi

 Halo!!!

Lama nggak jumpa!!!

Iya, banyak banget yaaa hal-hal yang terjadi dua tahun belakangan ini. Gara-gara Covid-19, udah setahun lebih kita "dipaksa" untuk lebih banyak di rumah dan jaga jarak denga teman-teman dan kerabat kita, mendadak laptop dan sambungan internet yang stabil menjadi dua hal yang esensial karena kerja dari rumah butuh banget dua hal ini.... Trus banyak juga lah cerita-cerita lainnya. Susah maupun senang, gue berharap semua jadi pelajaran yang positif buat kita semua ya...

Ngomong-ngomong soal pelajaran positif, gue juga mau berbagi cerita soal sesuatu yang lumayan mencengangkan, menegangkan, tapi juga surprisingly good buat gue. Seperti judul pos ini, kalian bisa nebak lah ya.... Gue terpaksa menjalani operasi miom. Miom tuh apaan? Kenapa harus dioperasi? Emang bahaya kalo nggak dioperasi? Nah ini yang mau gue ceritain. 

Tapi inget ya, gue cerita lebih ke pengalaman gue sebagai pasien, dengan pengetahuan seadanya yang gue dapet dari penjelasan dokter dan googling, dan kondisi tubuh gue sendiri, jadi subjektif banget dan ga bisa kalian jadikan patokan untuk treatment kalian seandainya kalian mengalami hal serupa dengan gue.

Siap???

Semua berawal dari sekitar Oktober-Desember 2020 lah ya kira-kira. Di tahun 2020, kantor gue memberlakukan full WFH sejak bulan Maret sampai Juli, lalu setiap bagian dibagi 2 tim untuk masuk bergantian seminggu-seminggu. Jadi kalau Tim A minggu ini masuk kantor, Tim B kerja di rumah, dan sebaliknya. Tapi di bulan September, karena mengikuti kebijakan pemerintah, kantor gue full WFH lagi sebulan, baru masuk di Oktober dengan sistem Tim A-Tim B lagi. Selama WFH, gue lebih banyak bekerja duduk di depan laptop dengan jam kerja justru nggak terkontrol. Bahkan Sabtu-Minggu pun dipake buat kerja. Kurang bergerak, makan sekenanya, tidur juga sekenanya ngebikin badan gue menggendut. Banget, terutama di area perut. Gue sempet sih rajin senam ngikutin video-video di Youtube, tapi nggak berkelanjutan juga. Berat gue paling berat mencapai 80 kg. Buset, padahal sebelum adanya Covid-19 ini seinget gue berat badan gue di 74 kg, yang mana udah termasuk obesitas juga untuk tinggi badan gue yang cuma 158 cm. 

Sejak mulai masuk kerja lagi dan menyadari bahwa celana-celana kantor mulai sempit--bahkan ada yang gak muat!!!--gue pun memutuskan untuk mengganti konsumsi nasi dengan shirataki rice, yang bisa dibeli di toko-toko online. Katanya, shirataki rice ini kalorinya cuma 0 kkal bok, jadi bisa banget bantu gue defisit kalori. Gue juga perbanyak makan sayur dan strict makan malam ga lewat dari jam 5 sore. Dengan cepat, berat badan gue turun ke 76 kg. Punuk di bawah leher terasa mengecil, lengan mengecil, kaki mengecil, tapi perut gue kok tetap melendung? Dan keras? Waduh!!! Malah mungkin karena lemak di perut udah menghilang, kerasnya malah terasa abnormal?? Gue lalu mulai menghentikan makan shirataki rice, ngeri juga jangan-jangan gue ketipu beli shirataki plastik, dan plastiknya mengendap di perut gue. Soalnya itu doang alasan paling masuk akal dari mengerasnya perut gue kan? Haduh... ya udahlah gue mulai coba balik makan nasi. Yang terjadi, perut gue membesar kayak orang hamil dan BAB gue nggak lagi padat. Pipis pun nggak tuntas, ngebikin gue sering banget bolak-balik WC. Dan mulai bulan Desember, gue mengalami sakit pinggang dan perut yang amat dahsyat dibanding biasanya pas PMS, di mana gue kalo PMS tuh biasanya nyaris nggak pernah sakit di area situ, paling lebih ke kulit kering dan kayak gejala flu.

Awal Februari 2021, gue akhirnya memberanikan diri buat periksa ke dokter umum di RS Puri Cinere yang dekat rumah. Kenapa lama amat sih baru Februari periksanya? Jadi gini ya.... pekerjaan gue dari akhir tahun itu sedang banyak-banyaknya dan nggak bisa ditinggal, dan otak gue pun memang fokus buat kerja. Kedua, di masa pandemi ini sebenernya gue takut ke rumah sakit karena rumah sakit kan justru tempat berkumpulnya orang sakit yang belum jelas sakit apa kan (makanya mereka ke sana buat periksa). Tapi di awal Februari, kerjaan lagi lumayan berkurang dan perut gue makin besar sampai gue nggak bisa tidur telentang karena kulit perut berasa tertarik banget, jadi gue putuskan sudahlah ke rumah sakit aja pake jaket waterproof dan masker rapat-rapat. Gue milih ke dokter umum karena gue pikir ada masalah di usus gue kan... Lalu gue bertemu dengan dr Ireine. Dokter ini bukan langganan gue, karena gue nggak punya langganan sih, tapi dokter ini beneran ramah dan perhatian banget. Dia kaget pas megang perut gue, tapi dia nggak bisa pastiin apa penyebab kerasnya perut gue. Jadi dia merujuk gue ke bagian radiologi untuk USG. Tapi karena syarat USG adalah harus puasa 8 jam dan bagian radiologi udah mau tutup, gue baru bisa USG besok paginya.

Besok paginya, setelah minum air banyak-banyak dan berasa pengin pipis, gue baru di-USG. Katanya sih biar sekalian ketahuan kondisi kandung kemihnya pas lagi penuh. Ini kan USG buat nyari problemnya di mana ya, jadi akan diliat mulai dari kandung kemih, ginjal, rahim, liver, pokoknya daerah perut situ deh. Dan ketahuan lah kalau sumber mengerasnya perut gue adalah karena ada "massa solid hipoechoik intra abdomen... agaknya berasal dari uterus dengan ukuran sekitar 18,7 x 18,5 x 12,6 cm". Pada hari hasil USG keluar, dr. Ireine lagi nggak praktik di RS Puri Cinere, tapi sungguh ni dokter baik banget. Dia nelepon gue dan bilang kalau dia udah ngeliat hasil USG gue, dan dia menyarankan gue segera cari dokter Ginekolog Onkologi atau yang di belakangnya ada titel SpOG (K). Kebetulan RS Puri Cinere nggak punya dokter ini, jadi gue harus cari di rumah sakit lain. Dia nyaranin nama dokter di beberapa rumah sakit di kota Depok, tapi gue nemu satu dokter di RS Prikasih, yang mana lebih deket dari rumah gue ketimbang rumah sakit di kota Depok, walaupun Cinere itu Depok yaa... Namanya dr. Taufik Zain Sp. OG (K), dan jadwal praktiknya kebetulan di hari itu juga. 

Kamis, 11 Juli 2019

Nana di Penang Pt 1 : Penang pun Punya Pantura

Yak, satu lagi cerita tentang travelling yang sebenernya udah lumayan basi karena gue perginya di bulan Maret ini tapi baru sempet cerita sekarang.

Penang selalu dikenal orang Indonesia sebagai tempat berobat. Kalo ke dokter di Indonesia penyakit nggak sembuh-sembuh, ke Penang aja! Mau medical check up, ke Penang aja! Dan itu juga yang dulu gue tau soal Penang ini. Gue bahkan sama sekali nggak tahu di mana letak Penang di peta Malaysia. Tetapiii... setahun terakhir entah kenapa kok segala macam yang gue denger, gue lihat, selalu berkaitan dengan Penang. Nonton vlog kuliner taunya ngebahas Penang. Ngeliat postingan bos lagi makan duren, eh di Penang. Dan terakhir, film Crazy Rich Asian yang salah satu adegannya diambil di Blue Mansion di George Town. Duh! Lalu gue mulai penasaran dan browsing-browsing dong yaa... Eh kok kayaknya menarik, apalagi daerah George Town yang bernuansa kota tua. Kebetulan gue suka daerah berarsitektur tua--makanya nggak heran gue seneng banget nginep di daerah Harmoni di Jakarta. Lalu tanpa pikir panjang, pas ada tiket promo Malaysia Airlines, gue langsung beli tiket PP Jakarta-Penang dengan transit KL di harga rp900 ribuan sajah. Iya murah, tapi buat keberangkatan setahun berikutnya. Abis masukin kode kartu kredit, barulah kesadaran datang bertubi-tubi: Lah, berangkat tahun depan, emang gue masih tertarik sama Penang? Trus gue pergi sendiri, apa nggak takut? Nggak ada kerabat sama sekali lho di Malaysia!!



Iya, buat gue, Penang beda sama Singapore. Kalo di Singapore gue muter-muter sendiri sih nggak apa-apa karena gue udah hafal MRT-nya dan di sana juga ada teman buat dimintain tolong kalau gue kenapa-kenapa. Lhaaa Penang???!!!! Selama hampir setahun, gue galau. Mau batal pergi kok sayang uangnya dan penasaran juga sebenernya sama Penang... Jadi akhirnya gue mulai nonton dan baca segala hal tentang Penang dan pelan-pelan nyusun itinerary. Perjalanan gue cuma 4 hari dengan 2 hari pasti habis buat penerbangan, jadi waktu efektif gue jalan-jalan cuma 2 hari. Apa sih yang paling gue mau liat? Apa sih yang kira-kira bakal paling nyenengin buat gue di sana?

Setelah browsing-browsing, buat gue, yang paling bikin gue tertarik adalah STREET ARTS. Yep, street arts-nya. Ternyata di George Town itu banyak banget grafiti lucu-lucu yang terletak di gang-gang sempit atau tembok antar-toko yang berfungsi buat menarik turis yang jalan kaki di daerah George Town. Kedua, tentu saja Cheong Fatt Tze Blue Mansion yang jadi tempat syuting Crazy Rich Asia itu. Pengin banget gue ke sana! Dua itu yang utama. Maka gue menyusun bahwa di hari kedua gue di Penang gue harus ke Cheong Fatt Tze Blue Mansion dan hari ketiga abisin waktu seharian buat cari street arts. Baru setelah itu destinasi lain nyusul disusun.

Singkat cerita, berangkatlah gue ke Penang, naik Malaysia Airlines transit di KL dulu. Sampai di Penang udah lumayan sore, tapi untung proses keluarin bagasinya cepet dan bandaranya memang nggak besar. Sebenarnya dari bandara ini gampang banget cari bis ke George Town (tinggal naik Rapid Penang 401 atau 401E sampai Komtar), tempat hotel gue berada. Tapi karena gue ingin sampai hotel secepat mungkin dan ngeri nyasar, gue pun memutuskan pakai Grab aja. Berdasarkan kata orang-orang, Penang itu Grab-friendly banget, jadi gue pun langsung buka aplikasi Grab yang langsung berubah jadi versi Malaysia. Oiya, gue nggak beli kartu SIM baru karena gue pake XL Prio Pass ya. Nggak perlu utak-atik lagi, provider langsung menyesuaikan. Sip deh! Bayarnya pakai cash aja, sekitar 30 RM. Nggak pake lama nunggu karena bandaranya emang nggak gede-gede banget, sopir Grab yang keturunan India datang dan membantu memasukkan koper ke bagasi mobil. Kami pun berangkat.

Oh iya, Penang ini merupakan negara bagian Malaysia yang terbagi jadi dua wilayah, di Pulau Pinang dan di benua Asia. Penang International Airport, sama seperti ibu kota negara bagian Penang, George Town, terletak di Pulau Pinang dan gue juga cuma muter-muter di pulau ini, nggak nyeberang pulau. Jadi cerita gue hanya seputar Pulau Pinang yaaa...
Peta Pulau Pinang. Bandara itu di Bayan Lepas. George Town di atas.

Balik ke cerita nge-Grab perdana, karena letak Penang International Airport di ujung bawah sedangkan Georgetown di ujung atas, maka perjalanan lumayan panjang dan selama perjalanan gue ngeliat daerah pemukiman warga yang sebenarnya nggak beda jauh dengan Jakarta. Penang nggak bersih-bersih dan rapi-rapi amat, tapi terasa hangat dan hidup dan gue suka banget suasana seperti ini. Waktu di Penang sejam lebih cepat dari Jakarta, sama seperti Singapura, membuat Penang punya jam sunset yang lebih malam. Jam tujuh malam, langit baru semburat jingga. Dan gue pun akhirnya sampai di hotel.


Hotel gue mungil tapi cantik. Di ujung jalan ada food court yang udah buka pagi-pagi dan jual paket sarapan yang muraaah banged!
iStay Hotel, tempat gue menginap, terletak di Jalan Rangoon, memiliki arsitektur jadul. Rata-rata bangunan di George Town memang bernuansa jadul sih, makanya dapet gelar UNESCO Heritage. Sengaja gue menginap di sini karena gue nggak mau berada di tourist area banget, dan ternyata merupakan pilihan tepat karena selama jalan-jalan di daerah ini, gue banyakan ketemu warga lokal ketimbang turis, bahkan sempet ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang.

Penang punya banyak food court dan restoran dengan harga yang amaaat sangat terjangkau, nggak heran tempat ini jadi destinasi wisata kuliner. Di daerah hotel gue, terdapat food court yang menjual berbagai macam makanan mulai dari roti srikaya, martabak, kwetiau, sampai sea food. Buka dari sekitar jam 7 pagi sampai malam dan selalu ramai. Nggak jauh, ada restoran prasmanan Chinese food. Lalu, ada Nasi Kandar Pelita yang buka 24 jam dan menjual masakan halal. Agak jauh, ada restoran dim sum yang hanya buka pagi sampai jam 2 siang. Soal makanan akan gue ceritain di pos kedua ya. Untuk pos ini, gue akan fokus ke tempat wisatanya.

bangunan model gini banyak banget di George Town


Senin, 10 Juni 2019

Belajar Knitting dari Youtube

Hai! Jumpa lagi setelah setengah tahun (haha!!) dengan gue. Yep, emang deh sejak laptop gue bermasalah sama baterai dan belum gue apa-apain, nasib blog ini jadi nggak jelas banget. Tapiiii.... kali ini gue mau cerita soal hobi merajut gue yang sebagian besar gue pelajari secara otodidak dari... YOUTUBE!!!! Mungkin berguna buat orang-orang yang udah penasaran pengin ngerajut tapi bingung harus belajar dari mana dan gimana cara memulainya.

Zaman sekarang, apa saja bisa dicari di internet. Belajar apa pun yang kita tertarik udah bukan lagi hal yang sulit dan bisa dilakukan secara gratis, asal kita punya koneksi internet yang lancar dan cepat. Tinggal buka google, masukkan kata kunci, dan YAP! Sederet tautan terkait hal tersebut pun sudah langsung muncul, siap kita klik. Salah satu tempat favorit gue untuk belajar adalah Youtube, karena bentuk penyampaian materinya dengan video, jadi kita bisa belajar lengkap secara visual maupun audio. Kalau kita ketinggalan langkah, tinggal rewind. Kalau kita merasa bingung dengan satu video, tinggal cari video tutorial lain. Kalau masih bingung, tinggal tanya di komentar dan nanti si pembuat video atau penonton lain yang mengerti akan membalas dan membantu kita. Salah satu yang bisa kita pelajari di sini adalah merajut dengan teknik knitting.

Knitting adalah hobi gue sejak zaman masih kuliah dulu niiih. Knitting ini beda dengan crochet ya, teman-teman. Kalau crochet menggunakan alat bernama hakpen yang ada kaitnya, maka knitting ini mengenakan dua jarum rajut dengan teknik pengerjaan memindahkan benang dari satu jarum ke jarum lainnya dan seterusnya untuk naik tingkat. Awal perkenalan gue dengan knitting dulu adalah karena gue iseng mampir ke toko rajut di mal dekat rumah. Kalau beli alat atau benang di sana, kita bisa belajar gratis dan memilih pola yang tersedia di sana. Penjaga toko akan membantu kita belajar sampai selesai satu project, biasanya dimulai dari syal dengan pola sederhana yang berguna untuk meluweskan tangan kita. Seru, tapi berubah jadi nggak seru ketika si penjaga toko yang jago knitting tiba-tiba berhenti. Dan sejak itu, ilmu gue pun stuck sebatas merajut syal sederhana....

Setelah bekerja, gue ketemu teman di kantor yang hobi knitting sekaligus punya toko online peralatan merajut. Karena kangen knitting dan lapar mata ngeliat benang-benang lucu, gue pun belanja banyak di situ. Tapi terus bingung mau ngapain. Bikin syal dengan teknik begitu-begitu aja, bosen. Lalu isenglah gue browsing Youtube dan WOWW!!!! Ternyata video tutorial knitting ini banyak banget!!

Sebelum gue membagi-bagikan referensi video Youtube yang bisa teman-teman tonton kalau teman-teman berminat belajar knitting, gue akan kasih info-info dasar untuk knitting dulu yaa... 

JARUM

Jarum knitting ini banyak modelnya, ada yang single pointed needle atau straight needle yang di satu sisi lancip tapi sisi lainnya tertutup untuk mencegah benang yang sedang dikerjakan lolos. Biasanya jenis jarum ini berguna untuk project yang cuma lurus dan nggak terlalu lebar macam syal. Ada double pointed needle, di mana dua sisi jarum lancip, biasa berguna untuk membuat rajutan yang bulat seperti topi atau kaos kaki, tapi hati-hati benangnya lolos! Lalu ada circular needle di mana di satu ujung jarumnya lancip, di ujung lainnya terdapat kabel untuk menghubungkan satu jarum dengan jarum lainnya. Menurut gue, jarum jenis circular ini paling nyaman digunakan karena bisa buat project apa aja terutama yang lurus macam syal atau selimut. Buat topi juga bisa, karena kabelnya bisa ditarik-ulur. Circular needle punya kabel yang panjangnya beragam yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Jenis-jenis jarum knitting. Sumber di sini.

Tentang bahan, ada yang besi ada pula yang bambu. Gue pribadi suka bambu karena lebih kesat dan benang nggak mudah lolos. Tapi jeleknya, jarum bambu mudah patah kalau kita terlalu menekan. Untung harganya murah :P  Oiya, kalian bisa beli di toko-toko online di tok*pedia atau sho*ee yaaa untuk jarum rajut ini. Beli per set oke, tapi mungkin kalian ga butuh seluruh ukurannya. Jadi, mending tentuin dulu benang yang akan kalian gunakan dan mau bikin apa. Untuk circular needle, tentu project bikin selimut dan syal yang punya lebar berbeda membuat kalian butuh panjang cable yang berbeda.

Jumat, 14 Desember 2018

5 Penyanyi Favorit di Tahun 2018

Setelah buku favorit, kali ini gue mau bagiin 5 penyanyi favorit yang lagunya banyak gue dengerin di 2018. Kalau kalian udah baca blog ini, kalian tentu udah bisa menebak kalau gue Kpopper yaa... Dan memang, banyak lagu yang gue suka adalah lagu Kpop. Tapi tenang aja, gue nggak cuma dengerin Kpop kok... Lagu-lagu dari artis Indonesia juga banyak yang oke dan mengisi hari-hari gue selama tahun 2018--terutama selama di bis dari dan ke kantor. Daaaan... Inilah favorit gue!!!!

1. NCT

NCT adalah grup cowok terbaru dari SM Entertainment yang debut tahun 2016 dengan konsep unlimited baik dari jumlah member, sub-unit, dan juga jenis musik. Di tahun 2018, ada 4 sub-unit yang aktif, yaitu NCT 2018, NCT U, NCT 127, dan NCT Dream. Banyak kan? Iya. Bedanya apa? NCT 2018 adalah sebutan untuk seluruh member NCT yang aktif di satu tahun dan untuk tahun 2018 ini ada 18 member yang aktif. NCT U adalah unit dengan member yang bisa dibongkar-pasang sesuai genre musik yang dibawakan. NCT 127 adalah unit tetap yang aktif dan fokus ke pasar Korea Selatan dan Jepang. NCT Dream adalah unit yang terdiri dari anggota di bawah 20 tahun dengan musik yang menggambarkan usia remaja. Bingung? Makanya nggak usah dipikirin, nikmati aja! Hehehe.

Di tahun 2018, lagu-lagu NCT yang sering menemani gue adalah NCT U Taeyong & Ten - Baby Don't Stop yang seksi dan NCT Dream - We Go Up yang enerjik banget.


Video klip yang dibikin di Ukraina ini buat gue memanjakan mata sekaleeee.... Tapi cuma denger audionya juga enak karena musiknya easy listening dan perpaduan suara Ten yang lembut dan Taeyong yang gahar tuh asyik banget!


NCT Dream adalah sub-unit favorit gue karena semangat mereka dan album We Go Up punya lagu yang beneran enak-enak semua!

Kalian bisa dengar lebih banyak lagu NCT di Spotify.

2. WINNER

Winner adalah grup cowok 4 orang dari YG Entertainment yang debut di tahun 2014 dengan jumlah member 5 orang. Sayang mereka kemudian hiatus karena salah satu member sekaligus motor grup, Nam Taehyun, dikabarkan menderita gangguan psikologis dan keluar dari grup. Sisa 4 orang, Winner baru comeback di tahun 2017 dengan 4 single beraliran musik baru yang booming banget (Really Really, Fool, Island, Love Me Love Me). Di tahun 2018, mereka juga mengeluarkan full album Everyd4y dengan lagu jagoan Everyday.

Yang gue suka dari Winner adalah musik mereka yang easy listening--nggak ribet--dan suara duo vokalis, Kang Seungyoon, dan Kim Jinwoo. Suara mereka berdua kontras banget, sementara Seungyoon punya suara powerful, Jinwoo justru punya suara lembut.

Lagu favorit gue Really Really yang keluar di tahun 2017 dan Air, yang merupakan lagu kedua di album Everyd4y.


Kalian harus juga nonton live performance mereka. Dance-nya asyik banget!


Lagu Air yang bercerita tentang betapa Winner sangat menghargai kehadiran fans yang tetap tinggal di saat-saat susah mereka seperti udara ini sebenarnya terinspirasi dari air purifier yang Seung Yoon terima dari fans. Fans benar-benar jadi inspirasi banget buat mereka!

Kalian bisa dengar lebih banyak lagu Winner di Spotify.

Sabtu, 08 Desember 2018

3 Buku Favorit Gue di Tahun 2018

Tahun 2018 sebenarnya merupakan tahun yang agak menyedihkan dalam hal hobi membaca buku gue. Sepertinya, ketimbang membaca buku--baik novel maupun buku non-fiksi--gue lebih banyak membaca sosial media karena dramanya lebih rame dan plot twist-nya lebih manstab (haiyah!). Tahun ini memegang rekor jumlah bacaan terendah gue sebagaimana terdaftar di Goodreads gue (eh kalau kalian punya akun Goodreads, add friend dong! Kan lumayan, bisa berbagi rekomendasi bacaan) yaitu 15 buku saja. Paling nambah 1 nanti kalau novel yang lagi gue baca sekarang bisa gue selesaikan.

Untungnya, dari 15 buku itu, gue masih menemukan bacaan yang berkualitas dan gue rekomendasiin banget! Genre-nya beda-beda: satu adalah mistery-family-romance, satu adalah fiksi sejarah, dan satu lagi romance yang amat sangat gue pengin nonton filmnya (kalau nanti dibuat--please!). Gue harap, rekomendasi gue ini bisa menjadi pilihan teman-teman juga.

So, here we go!!!





Walau nama pengarang Indonesia banget, aslinya novel ini berbahasa Inggris karena penulis tinggal di Singapura. Cerita Rainbirds sendiri nggak ada bau-bau Indonesia-nya sama sekali, malah ber-setting di Jepang dengan suasana Jepang banget. Kalau kalian suka nonton film Jepang, pasti ngerti maksud gue. Untuk hal ini, penulis gue acungi 2 jempol!

Secara garis besar, Rainbirds bercerita tentang Ren Ishida, mahasiswa nyaris lulus, yang menyelidiki kehidupan almarhum kakak perempuannya, Keiko, yang beberapa tahun sebelumnya memutuskan untuk hidup sendiri di kota lain berpisah dari Ren dan orang tua mereka. Ketika mendapatkan kabar kalau Keiko terbunuh, Ren segera berangkat ke Akakawa. Urusan dengan polisi membuat Ren harus tinggal di kota kecil itu untuk waktu yang cukup lama. Tanpa ia sadari, Ren pun malah masuk ke kehidupan Keiko: tinggal di rumah yang pernah disewa Keiko, bekerja sebagai guru menggantikan Keiko, dan menyusuri rahasia yang disimpan Keiko.

Kenapa gue rekomendasiin buku ini? Karena menurut gue, buku ini berhasil menampilkan dinamika kakak-adik dengan sangat realistis. Lewat kenangan Ren akan Keiko, kita akan melihat betapa baiknya Keiko menjaga adiknya, tapi di sisi lain juga betapa banyaknya rahasia yang Keiko simpan demi tidak menyakiti adiknya. Intinya, buku ini akan membuat kita merenung tentang hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita: sudahkah kita mengenal mereka cukup dekat?


Minggu, 02 Desember 2018

Opini : Udah Tua Suka Kpop? So What???

Ceritanya tanggal 17 November yang lalu gue nonton konser Winner, EVERYDAY. YAAAYY!!! Akhirnya.... gila yaa.... one of my bucket list bangettttt!!!!! Dan di Jakarta pula! Aduh paling seneng deh udah nonton konser di negara sendiri ya, berasa tuan rumah. Kalo nonton di negara lain kan berasa cuma numpang nonton doang hahaha.

Anywaaaayy.... kali ini gue nggak mau cerita soal konser itu (yang keren banget, aselik!), tapi mau cerita tentang hal menarik dan lucu yang terjadi ke gue dalam perjalanan ke Tennis Indoor Senayan, sore sebelum konser Winner itu.

Bakal gue inget sampe gue jompo sebagai salah satu konser terbaik yang gue pernah datengin. Untung gue nggak gengsian. Hahahaha!

Jadi gue Sabtu, 17 November, itu masuk kantor dulu paginya. Supaya nggak kecapean karena rumah cukup jauh, gue nginep di daerah Glodok. Jadi pulang kantor gue check in dulu di Glodok, mandi, istirahat bentar, baru naik Transjak ke GBK. Nah, dalam perjalanan, gue duduk sebelahan sama satu cowok jangkung. Awalnya dia asyik dengerin musik di smartphone-nya (anggap aja musik yaa... gue ga denger), tapi tiba-tiba dia nanya:

Dia : "Mbak, kalo ke GBK turun di halte mana?"
Gue : "Di halte GBK, nanti turun pas di depannya."
Dia : " Kalo ke JCC deket dari situ?"
Gue : "Oh kalo ke JCC sebenernya deketan lewat halte Polda, tapi halte Polda lagi renov, jadi semua turun di GBK. Paling ntar setelah masuk, kamu jalan lurus aja deket Hotel Sultan situ."

Lalu dasar gue geblek ya... Gue malah nanya lebih jauh.

Gue : "Saya juga kebetulan mau turun di GBK sih. Btw mau ke acara apa?"
Dia : "WWC. Ibu *ho'oh IBU LHOOO!!!* mau ke sana juga?"
Gue: "Oh nggak, saya mau nonton konser."
Dia : "Konser apa? Di GBK juga?"
Gue : "Nggak, di Tennis Indoor. Konser Kpop, namanya Winner."
Dia : "Kpop? Maaf ya Bu, tapi orang seumuran Ibu masih suka Kpop?"

Gue mulai yang... Serius loe nanya gitu ke orang yang baru lo kenal dan bantuin lo nyari halte turun? tapi karena muka dia polos dan gue penasaran juga, maka gue lanjut tanya dengan lempeng aja.

Gue : "Emang kenapa dengan orang seumur saya suka sama Kpop?"
Dia  : "Yaa... biasa kan itu kesukaan anak-anak muda, yang demen teriak-teriak ngeliat cowok-cowok gitu... Kalo seumur Ibu biasanya kan udah di rumah ngurus anak..."


Senin, 12 November 2018

Belanja di Watsons yang Pasti Untung Terus!!

Halo temansss.... Kali ini gue ngepos lagi bukan untuk cerita-cerita soal pengalaman jalan-jalan gue, tapi pengalaman belanja gue di WATSONS!!

Udah pada tau tentang Watsons belum? Kalau kalian ke mal-mal terutama di Jakarta, kalian bakal nemuin toko semacam supermarket khusus untuk produk kecantikan dan kesehatan dengan bentuk seperti ini:

Watsons Pondok Indah Mal 2 -- yang sering banget gue kunjungi pas pulang kantor.
Gede kan? Lha iya, wong produk yang dijual juga banyak kok!

Awal mula gue tertarik ke Watsons berawal dari sekitar satu setengah tahun yang lalu ketika gue perlu buat beli obat maag  pas gue di Pondok Indah Mal 2. Agak jauh buat ke supermarket di lantai bawah, gue iseng masuk ke Watsons dan ngeliat, ada apa aja sih di toko ini? Wah ternyata barang-barang yang dijual banyak banget, dan banyak pula diskonnya! Selain beli obat maag, gue pun akhirnya memborong beberapa sheet mask Korea juga yang kebetulan juga dijual di sini.

Nggak lama, ada promo pembuatan kartu member Watsons di salah satu aplikasi ojek online, di mana hanya dengan menukar poin yang kita dapatkan dari penggunaan aplikasi tersebut, kita bisa dapat free membership dengan benefit poin setiap kali kita belanja di Watsons dan banyak kupon voucher. Gue pun nggak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung ke Watsons PIM 2 buat bikin kartu member-nya. Selagi bikin kartu, gue juga dijelasin sama mbak kasirnya bahwa Watsons ternyata juga punya online store, yaitu di https://www.watsons.co.id/ dan keanggotaan gue langsung bisa aktif untuk belanja di website itu juga. 

Kartu member gue. Masih yang lama, kalau yang sekarang ada versi BCA Flazz juga, bisa sekalian buat bayar belanjaan kita.

Sabtu, 10 November 2018

Review Hotel : Grand Mercure Jakarta Harmoni

Satu lagi hotel yang terletak di kawasan strategis Gajah Mada-Hayam Wuruk yang gue review dan gue rekomen banget: Grand Mercure Jakarta Harmoni.

cr: agoda.com

Kalau kemarin gue nginep di Hotel Harris Vertu yang deket banget ke halte Harmoni, kali ini Grand Mercure Jakarta Harmoni posisinya pas banget di sebelah halte Sawah Besar. Di sebelah Grand Mercure Jakarta Harmoni, ada juga Hotel Ibis Jakarta Harmoni (yang gedungnya ada merah-merahnya itu). 

Btw, kenapa sih gue demen banget nginep di daerah Harmoni ini? Karenaaaa... tempatnya strategis banget buat yang mau jalan-jalan di Jakarta. Misalnya hanya dengan jalur koridor 1 Transjakarta Blok M-Kota, kita udah bisa berkunjung ke: Blok M (kalo malem, coba kuliner lesehan di Blok M Square deh!), Senayan (Bisa ke FX, Plaza Senayan, Senayan City, dan Pacific Place buat kalian pencinta mal atau menikmati car free day di sepanjang Sudirman-Thamrin di hari Minggu), Monas, Museum Nasional, Glodok, dan Kota Tua. Kalo mau ke Pasar Baru tinggal ganti ke koridor 3 di Halte Harmoni. Buat orang luar Jakarta yang pengin jalan-jalan di Jakarta tanpa macet dan ribet, gue saranin kalian stay di daerah ini deh!! 

Sekarang, kita balik ke cerita soal hotel ya...

Lobi hotel yang nyaman

Hotel Grand Mercure Jakarta Harmoni adalah hotel bintang 4, maka nggak heran interiornya cukup mewah dan nyaman walau minimalis. Gue milih kamar Superior Twin Room di lantai non-smoking. O iya, hotel ini punya lantai untuk smoking juga, tapi kebanyakan non-smoking. Nuansa putih-tosca dari kamar gue langsung bikin mata seger, padahal gue sampe dalam keadaan capek karena baru pulang dari acara kantor di Dunia Fantasi, Ancol. Kamar cukup luas dengan tempat tidur nyaman, ada juga kursi dan meja kerja.



Minggu, 28 Oktober 2018

Review Hotel : Santika Premiere Beach Resort Belitung, Sijuk


Seperti yang udah gue janjiin, kali ini gue akan bercerita tentang hotel yang gue inapi selama ke Belitung bareng KGVC. Hotel Santika Premiere Beach Resort ini, buat gue adalah hotel yang sangat pas buat kalian pilih selama kalian berkunjung ke Belitung. Berikut alasannya:

1. Letaknya Strategis Banget!!

Hotel ini terletak di Sijuk, dan dekeeettt banget sama Pantai Tanjung Tinggi (tempat syuting Laskar Pelangi yang penuh batu-batu granit cantik dan hamparan pasir putih serta air lautnya yang biru keren banget buat foto-foto) serta Pantai Tanjung Kelayang (tempat mulai island hopping). Ketika udah cape island hopping dan basah-basahan, bisa sampai ke hotel dengan cepat untuk berbilas dan istirahat adalah sesuatu yang luar biasa banget!

Kalian bisa lihat di google maps. Kenyataannya, dari Pantai Tanjung Kelayang ke Hotel Santika nggak sampai 10 menit naik bis karena jalanan di sana sepi.

2. Kamar dengan Pemandangan Laut

Ini juga suatu hal yang kita cari banget kan, kalau kita berlibur ke pantai? Santika Premiere Beach Resort ini punya banyaaak kamar yang memiliki pemandangan laut. Enaknya lagi, di balkon tiap kamar ada sofanya sehingga kita bisa duduk-duduk di sana menikmati pemandangan.

Di pagi hari, air laut surut. Kalian bisa jalan-jalan di sepanjang pantai sambil berfoto-foto. Kalian juga bisa berenang dan menikmati pemandangan laut atau simply kayak gue, numpang tidur-tiduran di kursi malasnya aja. 



Kamis, 25 Oktober 2018

3 Hari 2 Malam di Belitung dengan Kompas Gramedia Value Card

Pada tanggal 24 - 26 Agustus 2018 yang lalu (bangett), gue sama nyokap ikutan open trip dari Kompas Gramedia Value Card ke Belitung. Kok bisa ikutt??? Ya kan kebetulan punya Kompas Gramedia Value Card, trus gue liat harganya lumayan oke, Rp. 3,8 juta per orang udah all in, yang artinya udah termasuk pesawat, hotel, makan, minum, bis, biaya sewa perahu, peralatan snorkelguide, foto-foto daaan.... aneka merchandise dan hadiah!!!! Okelah yaaa harganya. Jadi cusss deeeh!!!



Oiya, sebelum gue cerita lebih jauh soal trip ini, gue mau kasih info soal Kompas Gramedia Value Card ini supaya lo pada bikin. Hahaha... KGVC sebenernya adalah kartu BCA Flazz siih, tapi dengan fasilitas diskon dari Kompas Gramedia Group. Yang paling gampang, kalo belanja buku-buku terbitan Kompas Gramedia di Gramedia, kalian bisa dapet diskon 10% atau lebih kalo lagi ada promo. Makan dan minum di beberapa restoran partner, misalnya di Cozyfield, juga bisa dapet diskon. Nginep di Santika--ini punyanya Kompas Gramedia Group juga lhoo..--dapet diskon juga. Informasi lebih lanjut bisa kamu liat di sini. Dan KGVC juga suka bikin acara open trip buat anggotanya. Yang pertama adalah ke Belitung ini, dan berikutnya di November nanti ada acara rafting ke Citarik, Sukabumi. Selanjutnya, tentu masih banyak destinasi menarik yang udah direncanain. Jadi, ga ada salahnya kalo kalian bikin kartunya di  Gramedia secepatnya.

Kembali ke tripnya.

Ini itinerary kami--buat yang mau ikutin:

24 Agustus 2018:
Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Terminal 2F naik Sriwijaya Air flight 06.20 - 07.20 WB
Sarapan Mie Belitung dan Es Jeruk Kunci di Hanggar 21
Ke Gantong untuk lihat-lihat replika sekolah Laskar Pelangi
Ke Museum Kata Andrea Hirata
Ke Kampoeng Ahok, Manggar
Makan siang di Restoran Fega
Minum kopi di Warkop Millenium
Ke Vihara Buddhayana Dewi Kwan Im
Ke Pantai Burung Mandi
Makan Malam di restoran Raja Seafood, Tanjung Pandan
Ke Santika Premier Hotel, Sijuk

25 Agustus 2018:
Ke Tanjung Kelayang untuk siap-siap island hopping
Naik kapal ke Pulau Pasir, Batu Berlayar, Pulau Burung, Pulau Lengkuas (makan siang nasi kotak)
Snorkeling dekat Pulau Lengkuas
Kembali ke hotel
Workshop Coffee Latte Art dan BBQ Dinner di Kampung Dedaun dan menikmati Kopi Janggut

26 Agustus 2018:
Ke Pantai Tanjung Tinggi tempat syuting Laskar Pelangi
Belanja suvenir dan makanan
Makan siang di Dapur Belitong
Minum kopi Kong Djie
Ke bandara H.A.S. Hanandjoeddin, kembali ke Jakarta pukul 14.55.
Mari mulai cerita panjang ini dari.... hari pertama.

Pede jaya rumah kami jauh banget dari Soetta, gue dan nyokap jam 2 pagi udah berangkat ke bandara hanya untuk mendapati kalau kami udah sampe di sana jam setengah 3 pagi karena jalanan masih kosong dan tol baru bikin jalan ke Soetta jadi cepet buanget. Hahahaha... Padahal jam kumpul adalah jam 4 pagi, dan pesawat berangkat jam 6 pagi. Alhasil, belum ada panitia satu pun di sana dan kami berdua ikut tidur di kursi layaknya turis-turis flight pagi di sana. Sekitar jam setengah 4, panitia dan beberapa peserta sudah datang, kami pun bergabung. Langsung dikasih minum, roti, serta topi merah yang harus kami pakai sebagai penanda, sebelum akhirnya naik pesawat. Bagasi semua udah diurus tim KGVC dan tas kami satu per satu dikasih tag nama.

Flight nggak delay, tapi kan ini pertama kali gue naik pesawat domestik yaa.... setelah bertahun-tahun lalu pas zaman Adam Air masih ada (sungguh!)--beberapa tahun terakhir gue cuma bolak-balik Singapore (bukan nyombong!) naik Air Asia dan terakhir (lagi-lagi bukan nyombong!!) ke Seoul naik Singapore Airlines, jadi gue agak syok juga mendapati pramugari-pramugari jualan barang di atas pesawat hahahaha! Kata temen gue emang biasa gitu. Jadi setelah penumpang dikasih kacang dan air minum, mereka lewat lagi tuh bawa gerobak dagangan dan mulai buka lapak. Aku terpana!!! Untungnya, dengan aktivitas ini, perjalanan sejam jadi nyaris nggak berasa, kami pun mendarat di bandara H.A.S. Hanandjoeddin yang statusnya udah internasional tapi ternyata cuma ada 2 pesawat lokal di sana. Aselik, ini bandara bisa buat tempat lari-larian saking kosongnya!!

Pesawatnya cuma 2. Sriwijaya yang kami naiki dan Citilink yang mendarat sebelumnya. Naik-turun nggak pakai belalai tapi tangga ya.


Sabtu, 21 Juli 2018

Review Hotel : Harris Vertu Harmoni

Pada saat libur Idul Fitri yang lalu, gue jalan-jalan ke daerah Pasar Baru bareng temen-temen kantor. Iseng aja sih, namanya juga libur lama kan yaa... Daripada bengong di rumah atau musingin PR kantor yang segabrek itu tapi males juga mau ngerjainnya... Pada hari yang sama, keluarga gue juga diundang makan malam di Hotel Borobudur. Jadi kepikiran, mending nginep aja di daerah situ gimana? Jadi kan ada waktu buat mandi dan santai-santai lah. Maklum, rumah gue kan letaknya udah beda provinsi. Mikir-mikir mau nginep di mana, kepikiranlah nyobain hotel baru di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat, yaitu Harris Vertu.

Hotel yang terletak nggak jauh dari Harmoni Central Busway ini unik, karena berbagi gedung dengan hotel lainnya, yaitu Yello Hotel. Sementara Harris Vertu punya lobi di sisi depan gedung, Yello Hotel punya lobi dari sisi belakang gedung. Lobi Harris Vertu ada di lantai 5 karena di bawahnya ada tempat belanja dan makan. Jadi, ketika kalian masuk ke gedungnya, kalian akan diarahkan untuk naik lift ke lantai 5, baru deh ketemu resepsionisnya!

Lobi Harris Vertu yang memanjang. Lift di sisi kiri beserta kursi-kursi buat menunggu atau kalau ada janji temu, di kanan ada meja resepsionis dan komputer untuk tamu dengan akses internet. Lurus terus adalah restoran, Voyage.

Buat Yello Hotel sendiri, berhubung gue nggak nginep di sana, jadi gue nggak akan ceritain di sini. Doain aja gue banyak rezeki jadi bisa nginep di situ dan bisa berbagi cerita yaa... Amiiin.

Kesan pertama begitu sampai di lobi hotel Harris Vertu adalah: modern, bersih, rapi, classy. Meja resepsionis terletak nggak jauh di sisi kanan depan lorong lift sementara di sisi kiri ada restoran Voyage. Berhubung gue udah booking pakai nama Bokap sedangkan Bokap belum dateng, gue agak serem juga sih kalo gue ditolak masuk kamar, apalagi gue dateng dengan kondisi butek abis jalan-jalan keliling dari Katedral, Masjid Istiqlal, lalu muter-muter Kota Tua. Tapi ternyata nggak ada masalah. Seperti proses check in biasanya, gue memberikan KTP dan kartu kredit, tanda tangan formulir, lalu gue dikasih 2 buah kartu akses kamar. Kartu ini penting banget dibawa karena kita baru bisa naik lift ke lantai kamar kita kalau kita sudah tapping kartu kita di lift. Jadi fungsi dikasih 2 kartu adalah, 1 kartu buat kita bawa-bawa, satu lagi buat dicolokin di deket pintu buat nyalahin listrik di kamar. Selain itu, gue juga dikasih password wifi.

nuansa abu-abu, putih, dan oranye/kuning.


Sampai di kamar....!!!!


Senin, 09 Juli 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 4 - Random Stories


Akhirnya kita berjumpa di pos terakhir gue tentang Seoul.

Udah agak basi sebenernya karena udah sebulan lewat dari trip gue ke sana... tapi masih berkesan di hati siiih.... Hahaha. Kali ini gue akan membagikan cerita jalan-jalan gue yang nggak pakai Discover Seoul Pass beserta hal-hal random yang gue temui di Seoul. Dimulai dari....

1. SANNAKJI

Sannakji adalah makanan khas Korea Selatan berupa.... gurita hidup yang dimakan selagi masih kejet-kejet. Jijik? Embueeerrr.... Merasa berdosa pas makan? Embuerrrr..... Tapi gue nyobain dan suka. Hahahaha.... Lha kok?

Jadi gini, sebenernya, gue nggak pernah menargetkan untuk makan sannakji di Korea Selatan sih. Malah, kepikiran aja nggak. Cuma, waktu gue sama Anggi jalan-jalan ke Gwangjang Market, kami ngeliat satu kedai yang jual makanan dari hewan-hewan laut mentah. Entah apa namanya di Korea Selatan, yang pasti kalo di Jepang ya sashimi gitu deh yaaa. Naaah salah satunya adalah sannakji ini. Sebenernya gue nggak bakalan ngeh kalau kedai yang gue dan Anggi lewatin jual gurita hidup kalo nggak karena ada beberapa orang lagi makan itu waktu kami lewat. Walau agak horor ngeliat makanan di piring masih menggeliat-geliat, tapi kok penasaran juga ngeliat orang-orang yang makan kayak menikmati banget.... Makan... nggak... makan... nggak...



Setelah gue perhatikan lebih lanjut, ternyata sannakji yang dijual si nenek di kedai bukanlah gurita utuh melainkan cuma lengannya. Jadi, gurita yang ada di akuarium di kedai itu bakal dimutilasi gitu sama dia secukupnya... (oke ini malah kedengeran lebih kejam, tapi gurita kan emang punya kemampuan menumbuhkan lagi lengannya yang putus--walau entah sakit apa nggak pas putus) lalu lengannya itu dipotong-potong lagi kecil-kecil sebelum akhirnya disiram pakai minyak wijen dan wijennya, lalu disajikan bersama saus cabai dan kecap asin. Gue pikir, wah kayaknya aman dimakan niih... dan penasaran juga sih, udah sampe Korea Selatan masa makanannya cuma mentok di yang di Jakarta juga ada macam kimbap, bibimbap, galbi, samgyetang? Jadi gue pun memutuskan untuk memesan satu porsi. Si Anggi tadinya nggak mau, tapi karena penasaran, akhirnya dia mau nyoba juga. Kami pesan satu porsi aja karena harganya lumayan mahal, 15.000 won seporsi. Tapi karena si nenek baik bener, kami malah dikasih dua gelas air putih, dua pasang sumpit, dan dua yakult. Plus satu rumput laut kemasan. Jadi intinya, makan di situ boleh seporsi buat lebih dari satu orang.


Lalu tibalah saat yang menegangkan, di mana akhirnya potongan lengan gurita yang masih bergerak-gerak itu disajikan di depan mata!!!! Satu... dua... tiga... HAP! masuk mulut. Ternyata enak rasanya. Hahahah. Lebih tepatnya, nggak ada rasanya sih, cuma asin-asin dikit. Tapi karena pakai saus cabai dan kecap asin, jadinya enak. Lengan guritanya lebih lembut daripada yang di sashimi sehingga mudah dikunyah dan gerakan-gerakannya nggak begitu terasa di dalam mulut. Mungkin karena udah dipotong pendek-pendek. Nggak perlu waktu lama buat menghabiskan seporsi sannakji ini dan nggak perlu pake maksa buat makannya.

Kasian guritanya, lengannya dipotongin terus buat dimakan...

Selain gue dan Anggi, ada juga orang Indonesia yang makan di sana, sepasang suami-istri atau pacaran mungkin--entahlah. Walau awalnya kelihatan jijik, setelah makan, mereka juga bilang sannakji itu enak kok. Jadi layak coba dong yaaa....

Tapi satu sih... setelah gue sampai di Jakarta trus gue mikir-mikir lagi, kok ya rasanya gue nekat juga. Masalahnya, tentakel guritanya dipotong langsung dari gurita yang ada di akuarium. Walau udah dicuci sebelum disajikan, tetap aja akuarium tempat si gurita tinggal itu kan belum tentu bersih dari kuman atau apalah mikroorganisme yang ada di air itu. Jadi sebenarnya, walau peluang keselek tentakel sudah minimum karena tentakel udah dipotong kecil-kecil, peluang keracunan makanan yaaa tetap ada. Untung aja waktu itu gue baik-baik aja. Mungkin itu fungsi Yakult-nya? Entahlah. Namun yang pasti, kalau kalian mau nyoba makan sannakji, pertimbangkan juga kemungkinan ini yaa.... Kalau berani ambil risiko, sebaiknya pastikan kalian beli asuransi perjalanan yang menanggung biaya rumah sakit secara maksimal!


Minggu, 17 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 3 - Comfortable Stay

Jumpa lagi di pos ke-3, di mana gue akan ngomongin soal tempat gue dan Anggi nginep selama di Seoul (dan numpang lewat di Incheon).



Gue tipe orang yang lebih senang tinggal di hostel ketimbang hotel. Alasan utama tentu soal duit karena hostel pasti lebih murah daripada hotel, terutama kalo gue solo traveling. Ketimbang bayar satu kamar hotel yang sebenarnya berkapasitas untuk 2 orang, mendingan bayar satu kasur di dorm. Nggak apa-apa sharing kamar rame-rame, toh kita bakal lebih banyak ngabisin waktu di luar ketimbang di hostel. Selain masalah pengiritan, gue juga ngerasa suasana di hostel lebih nyaman dan kekeluargaan ketimbang hotel. Kita bisa ngobrol sama staf resepsionisnya yang biasanya ramah, juga sama tamu-tamu lain. Berbagi tips dan rekomendasi perjalanan sembari makan pagi di common room. Buat gue itu sih juara! Tapi, karena perjalanan kali ini gue lakukan berdua sama Anggi, dan ternyata di Seoul banyak yang nawarin private room dengan harga murah khas hostel, gue dan Anggi lebih milih private room ketimbang dorm. Bisa dibilang hal ini menyenangkan banget, karena di samping dapat kamar privat ala hotel yang pastinya ngasih gue dan Anggi ruang buat bebas bongkar-bongkar koper, benefit dari hostel yang biasanya gue dapet kayak bisa ngobrol-ngobrol dan harga ngirit pun gue dapetin juga.

Selama 5 malam kami di Seoul dan Incheon, kami tinggal di 3 hostel. Pertama Hostel Tommy di daerah Jongno (selama 2 malam), kedua K Grand Hostel Ewha di daerah Ewha Women's University-Sinchon (selama 2 malam), dan terakhir K-Guesthouse Incheon Airport Town 1 di daerah Unseo, Incheon (selama 1 malam). Kenapa pindah-pindah? Karena menyesuaikan dengan tempat jelajah kami. Selama tanggal 25-27 Mei, kami berencana ke tempat-tempat yang bisa pakai Discover Seoul Pass, yang kebanyakan di daerah Jongno atau sekitarnya. Tanggal 27-29 Mei, kami berencana ke daerah perbelanjaan dan fashion street universitas. Daerah Ewha Women's University terkenal dengan produk fashion dan kecantikan karena banyak mahasiswi di daerah ini. Selain itu, daerah perbelanjaan terkenal lainnya, Hongdae, juga dekat situ. Di hari terakhir, yaitu 29 dan 30 Mei, flight kami pagi, yaitu jam 9 pagi. Oleh karena itu, kami harus tiba di Incheon lebih pagi. Akan lebih aman kalau sudah menginap di daerah sana karena Incheon cukup jauh dari Seoul. Maka kami pindah ke Unseo, Incheon.

Oke, sekarang mari mulai cerita soal hostel, dimulai dari:


Alamat: 66 Donhwamun-ro, Jongno-Gu.
Cara ke sana kalau naik kereta: Turun di stasiun Jongno-3(sam)-ga lalu keluar di Exit 7 tinggal jalan kaki lurus sampai ketemu gedung di sebelah kanan yang ada papan Hostel Tommy-nya. Kalau kamu bawa koper, enaknya naik lift di Exit 8, nyeberang jalan kecil dulu baru jalan kaki lurus.
Seperti udah gue bilang di pos sebelumnya, daerah Hostel Tommy ini asyik banget buat kalian yang mau ngunjungin istana-istana. Donhwamun adalah nama gerbang istana Changdeokgung, yang berarti di ujung jalan, kalian langsung sampai ke Changdeokgung (yang nempel sama Changgyeonggung). Selama perjalanan dari stasiun kereta ke hostel, kalau kalian menoleh ke kanan, akan kelihatan tembok batu. Naah... Itu adalah tembok Jongmyo Shrine. Kalian tinggal jalan menyusuri tembok ke arah yang berlawanan dari arah hostel untuk menemukan gerbang Jongmyo Shrine. Di depan Jongmyo Shrine, ada taman cantik buat duduk-duduk santai dan foto-foto. Setelah taman, ada jalan raya di mana kalau kalian naik bis bisa sampai ke Gwangjang Market dalam hitungan menit doang. Selain istana-istana, daerah ini juga ramai kalau weekend. Banyak anak muda makan di warung-warung yang digelar di pinggir jalan. Gue dan Anggi pengin nyoba makan di sana juga, tapi pas liat-liat, kok harganya mahal semua. Gak jadi deh. Hehe.

Trotoar dari stasiun kereta ke Hostel Tommy. Hostel Tommy masih di depan. Jalanannya cukup nyaman untuk narik-narik koper. Itu ada gang ke kanan, kalo belok udah keliatan Jongmyo Shrine.

Suasana hostelnya sendiri gimana? Pertama, nggak tersedia eskalator atau lift di hostel ini tapi nggak naik tangga banyak-banyak buat sampai ke resepsionisnya di lantai 2. Nggak begitu masalah kalau kalian dapat kamar di lantai 2, tapi kalo kalian dapat kamar di lantai 3... lumayan juga sih gotong-gotongnya... Gue bilang sih enakan bawa koper ukuran kabin aja ketimbang yang gede-gede karena bakal susah gotong-gotongnya. Oiya, buat yang bawa koper gede buanget dan kira-kira nggak muat ditaruh di kamar, ada tempat buat nitip koper juga, tapi buat gue pribadi bakal lebih susah buat bongkar-bongkar isinya. 

Waktu gue dateng ke sana, pemilik hostel, Mr. Tommy, yang menyambut kami dan beliau ramah luar biasa. Entah kenapa, beliau juga meng-upgrade kamar kami dari double room menjadi family room tanpa tambahan biaya. Hehe rezeki first timer kali ya? Pembayaran dilakukan tunai ketika check in dan gue milih bayar cash. Nggak ada uang deposit. Dan seperti biasa, pasport bakal di-scan untuk keamanan.

Tempat tidur bunk bed dan double.

Kamar kami cukup luas karena family room, terdiri dari 1 kasur ukuran double dan sepasang bunk bed. Ada meja, hair dryer, gantungan baju, 4 handuk kecil untuk mandi. Di kamar mandi udah disediakan sabun dan shampo. Colokan listrik ada, dan sama kayak di Indonesia, buat 2 kaki. Oh, ada kulkas juga di kamar!

Kamar mandinya. Bersih walau kecil.

Untuk common room-nya, persis seperti foto di booking.com, malah lebih luas. Nyaman banget! Kita bisa bebas menggunakan komputer dan internet untuk browsing tempat jalan-jalan, dan hostel juga menyediakan booklet untuk wisatawan dan kliping tempat makan dan daerah wisata di sekitar situ. Sarapan terdiri dari roti, sereal, dan telur yang harus dimasak sendiri. Untuk minum ada susu dan aneka jus sementara air mineral tersedia 24 jam. Sehabis makan, kita harus cuci piring dan gelas kita sendiri ya!

resepsionis di kiri, lalu dapur dan meja makan. Di sebelah kanan nggak masuk di gambar adalah ruang santai. Foto dari booking.com karena gue lupa foto. Itu di meja merah ada buku-buku. Naah, itu kliping panduan tempat makan dan tempat wisatanya. Di belakang meja merah ini ada komputer.

Wifi di tempat ini kencang dan stabil banget. Nggak heran ya, Korea Selatan gitu lhooo!

Kalau kita mau pulang malam, pintu sudah dikunci, tapi kita bakal dikasih password-nya. Jadi, nggak ada larangan pulang malam atau pagi ya. Tapi jangan berisik selama berjalan di koridor!

Gue suka banget sama hostel ini. Nggak heran, di booking.com komentar tentang hostel ini memuji semua. Abis, emang gak ada yang bisa di-complain sih!


Sabtu, 09 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 2 - Fangirling Time!!!


Jumpa di pos ke-2!!!

Btw kalo ada yang bingung itu foto patung apaan di atas, itu adalah patung Gangnam Style, sodara-sodara! Letaknya di depan Coex Mall, Gangnam. Kalau mau ke sini, bisa naik kereta turun di Bongeunsa Station keluar di Exit 7 atau Samsung Station keluar di Exit 6. Atau kayak gue dan Anggi, naik bis 143 dari depan Jongmyo Shrine--walau nggak disarankan karena lamaaa banget sampenya. Ya kecuali kamu pengin liat-liat pemandangan ya nggak apa-apa juga siiiih... Soalnya kereta kan banyakan di terowongan sedangkan bis di jalanan dan sempet nyeberang sungai Han juga, jadi pemandangannya cukup menarik.

Yang mau gue ceritain kali ini adalah seputar tempat-tempat yang bisa kamu didatengin dan barang-barang yang bisa kamu beli kalau kamu pencinta Kpop. Selepas Discover Seoul Pass, gue dan Anggi emang banyak menghabiskan waktu ke tempat-tempat yang berbau Kpop dan karena kami berdua SM stan alias ngefans sama artis-artis SM Entertainment (gue Super Junior dan NCT, Anggi TVXQ OT5 dan SHINee), daerah Gangnam dan Cheongdam jadi fokus kami banget.

Ini pintu masuknya. Begitu masuk, kita akan disambut dengan video artis-artis SM. Naik eskalator, foto artis-artis SM pun bertebaran. Siap-siap jantung, yaa...

Tempat pertama yang kami kunjungi udah gue ceritain sedikit di pos sebelumnya yaitu SM Town Coex Artium (sekarang namanya kalo menurut website resmi SM Entertainment adalah SM Town Theme Park in the City), di mana di dalamnya terdapat SM Museum dan SM Theater. Keduanya bisa dimasuki secara free dengan Discover Seoul Pass. Cara ke sananya gimana? Naaah... Gedung SM Town Coex Artium ini terletak 2 gedung di sebelah Coex Mall. Cara ke Coex Mall seperti yang udah gue kasih tau di paragraf pertama, tapi kalo mau langsung nongol di sebelah SM Town Coex Artium, kamu mending naik kereta turun di Samsung Station ketimbang Bongeunsa Station.

HEECHUL!!!! Baru masuk langsung pengin nemplok ke tembok...

Polaroid di mana-mana!!! Kalau kalian punya waktu seharian di sini, bisa foto-fotoin sepuasnya!!


Senin, 04 Juni 2018

Find Your Soul in Seoul Pt. 1 - Atur Itinerary dengan Discover Seoul Pass


Ketemu lagi di postingan soal jalan-jalan!!! Kali ini gue ke Seoul bareng sepupu gue, Anggi, selama 6 hari 5 malam. Sebenernya berangkatnya tanggal 24 Mei 2018 dari Jakarta dan pulang 30 Mei 2018 pagi dari Incheon Airport. Cuma karena landing-nya 25 Mei, jadi dihitung 6 hari aja yes!

Untuk liburan kali ini, kami nggak menggunakan jasa travel tapi modal nekat jalan-jalan sendiri. Beruntung kami menemukan informasi soal Discover Seoul Pass, yaitu kartu yang dikeluarkan Seoul Tourism Organization dan Seoul Metropolitan Government untuk membantu wisatawan asing menikmati kota Seoul. Ada 34 tempat wisata yang dapat wisatawan masuki secara gratis menggunakan DSP ini dan 30 tempat wisata lain yang memberikan diskon tiket masuk menggunakan kartu ini. Selain itu, kartu ini juga memberikan 1 kali gratis AREX alias kereta bandara express dari Incheon Airport ke Seoul Station atau sebaliknya, dan juga berfungsi sebagai T-money card yaitu kartu pembayaran untuk naik kereta, bis, taksi selama di Seoul. Untuk fungsi terakhir, kartu harus diisi dulu di stasiun kereta terdekat. Kartu DSP ini terdiri dari 3 waktu penggunaan berbeda, yaitu: 24 jam seharga 39.900 Won, 48 jam seharga 55.000 Won, dan (yang terbaru) 72 jam seharga 70.000 Won. Waktu ini bukan dihitung per hari sejak kartu kita dapatkan tapi per jam sejak kartu kita gunakan untuk pembelian tiket wisata pertama. Nanti akan gue jelasin lebih lanjut.

Waktu gue dan Anggi beli kartu ini, belum ada yang 72 jam, jadi kami beli yang 48 jam di Klook, supaya dapet diskon. Di Klook, tersedia peta tempat-tempat wisata yang ter-cover DSP, sangat membantu buat nyusun itinerary untuk melihat tempat mana aja yang letaknya deketan. Kalau lihat peta, kebanyakan tempat wisata klasik berlokasi di daerah Jongno-Gu sedangkan beberapa agak jauh di Apgujeong-Gangnam. Oleh karena itu, gue dan Anggi pun memilih tempat menginap untuk 2 malam pertama (hari penggunaan DSP) di daerah Jongno-Gu. Sisanya, kami pindah ke daerah universitas Ewha, tapi akan gue ceritain di pos berikutnya karena pos ini fokus bercerita tentang penggunaan Discover Seoul Pass. 

Ketika membeli DSP di Klook, pembeli akan diminta memilih tempat pengambilan kartu. Karena kami bakal mendarat di Incheon melalui Terminal 1 (kami naik Singapore Airlines yang mendarat di Terminal 1), maka kami memilih tempat pengambilan di Terminal 1. Hari pengambilan harus diisi dengan tepat pada saat pembelian kartu. Oiyaa... ngomong-ngomong, jika kalian mengalami kebingungan terkait DSP, kalian bisa tanya-tanya ke Customer Service di website Discover Seoul Pass lho. Klik aja tanda speech bubble di kanan bawah, Customer Service bakal langsung membalas kita dan menerangkan dengan rinci semuanya. Gue sempet nanya beberapa kali terkait tiket AREX dan SM Town Museum yang baruuu aja masuk ke daftar atraksi gratis di DSP tepat sebelum gue berangkat dan selalu mendapat penjelasan yang memuaskan.

Setelah beli DSP, tentu kami merancang tujuan kami dong. Jangan sampai 55.000 Won yang udah dikeluarkan nggak terpakai maksimal! Sayangnya, contekan rincian itinerary DSP yang efektif dan efisien susah ditemui walau gue udah utak-atik keyword Mbah Google. Jadi deh, gue dan Anggi ngerancang sendiri. Rancangan awal kami adalah seperti ini:

25 Mei 2018
Jongmyo Shrine : 1.000 Won
Changdeokgung : 3.000 Won
Changgyeonggung : 1.000 Won
Gyeongbokgung : 3.000 Won

26 Mei 2018
Teddy Bear Museum : 10.000 Won
N Seoul Tower Observatory Deck : 10.000 Won
Grevin Museum :18.000 Won
Coex Aquarium : 28.000 Won
SM Town Museum : 18.000 Won
SM Town Theater : 15.000 Won

27 Mei 2018
MBC World : 18.000 Won

Kalau semua berjalan sesuai rencana, total pengeluaran tiket sudah 125.000 Won. Berarti kami bisa hemat 70.000 Won dengan DSP. WOW!! Semangat banget kan jadinya???? Tapi apa semua rencana bisa terlaksana? Ternyata tidak. Mwahahahah.... Mari dibaca ceritanya satu per satu.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...